Karikatur Anjing Rindukan Bulan

Indonesia nan dirindukan, amatlah banyak bangsa-bangsa nan hendak menguasainya sedari dahulu. Menjadi rebutan untuk dimiliki. Orang putih ataupun keling bahkan sampai ke kulit kuning. Mereka datang berganti-ganti, adapun anak negeri tetap dibawah mengais-ngais nan tercecer.      

Seorang Pejabat berhaluan Ahmadiyah

“Haram melawan pendjajah Inggris? Datoek Poetih, seorang jang berasal dari Sumatra Barat, doloenja pernah djadi Demang, dan sekarang soedah masoek partij Ahmadi[j]ah Qadian, baroe[2] ini soedah sampai di Makkah. Disitoe dia dikoendjoengi oleh beberapa pemoeda2 Indonesia jang bertanja kepadanja tentang pergerakan Ahmadijah. Waktoe satoe dari jang hadlir bertanja (lihat s[oerat] ch[abar] ‘Radio’28 Aug[ustus): “Adakah engkoe tahoe gerakan Gandhi?”…

Pertumbuhan menjadi bahasa resmi

Dalam sebulan-dua bulan yang akhir ini bahasa Melayu menjadi buah perbincangan umum. Hampir tiap surat kabar memuatkan pikirannya. Orang-orang yang mencintai bahasa berunding dan bermusyawarah, bagaimana jalan yang sebaik-baiknya untuk memajukan bahasa itu dan untuk menjaga supaya bahasa itu jangan rusak oleh pengaruh yang tiada baik. Perkumpulan dan komisi didirikan orang berhubung dengan bahasa Melayu….

Athar, Hatta

Mohammad Athar atau lebih dikenal dengan Mohammad Hatta lahir pada tanggal 7 Jumadil Awal 1320 yang bertepatan dengan 12 Agustus 1902 di Kampung Aua Tajungkang  pada rumah berlantai dua yang di seberangnya terdapat jalan kereta api dengan latar Gunung Merapi & Singgalang yang selalu mengamati. Bung Hatta adalah anak kedua, kakaknya bernama Rafi’ah. Adapun dengan…

Dubes Mr. Datuk M. Nazir St. Pamuncak

Visual Klasik Nusantara #66 – Duta RIS Mr. Nazir St. Pamuntjak dan Presiden Perancis Vincent Auriol (1950) Sumber: MadjalahMerdeka, No.21, Th. III, 27 Mei 1950: 10 Catatan: Di sebelah foto ini terdapat laporan berikut: “DutaTetap. Sesudah beberapa lamanja di-ibukota dunia, Paris, Mr. Datuk M. Nazir Sutan Pamuntjak, duta RIS di Perantjis baru-baru ini telah mengundjungi presiden…

Kenang-kenangan dr. Abdul Halim: Bab VIII

VIII. MENJEMPUT TOKOH-TOKOH PDRI T : (Pada) pertemuan-pertemuan kita yang telah lalu, mulai dari yang pertama sampai yang ke enam Bapak telah menceritakan kepada saya berbagai masalah yang Bapak alami sejak tahun 1942; sejak Jepang masuk, sampai ke Indonesia Merdeka dan kemudian tahun 1947. Sebelum Bapak menjadi Perdana Menteri Republik Indonesia di Yogya, ada masalah-masalah…

Kenang-kenangan dr. Abdul Halim: Bab VI

KOMISARIS PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DIJAKARTA T: Pada pertermuan yang lalu Bapak bercerita bahwa Bapak akan mencerita­kan tentang tugas Bapak sebagai Komisaris Pemerintah Republik Indone­sia di kota Jakarta yang langsung bertanggung jawab kepada Dewan Mente­ri. Hal ini menurut Bapak terjadi tanggal 7 Juni 1947. Kemudian Bapak waktu itu akan menceritakan pengalaman Bapak ketika bertemu dengan Komisi…

Kenang-kenangan dr. Halim: Bab IV.

SATU ORANG DENGAN EMPAT PERISTIWA T: Pada pertemuan-pertemuan yang telah lalu Bapak telah menceritakankegiatan tahun 1945. Sekarang kami mengharapkan dari Bapak cerita-cerita di tahun 1946, dan bagaimana aktivitas Bapak pada tahun ter­sebut, kemudian bagaimana peranan Bapak terhadap masalah-masalah be­sar yang telah terjadi pada tahun 1946 itu, antara lain mungkin peranan Bapak sebagai tokoh politik dalam…

Kenang-kenangan dr. Abdul Halim: Bab III

III. I am a loner T: Kali ini kami ingin tentang kegiatan Bapak setelah sidang pleno tanggal 16-17 Oktober 1945, terutama kegiatan Bapak dalam Badan Pekerja KNIP, sampai akhir tahun 1945, khususnya sampai kepindahan Bapak ke Yogyakarta. J: Saya sudah katakan bahwa saya memprotes sama Sutan Sjahrir ketika saya dipilih menjadi anggota Badan Pekerja. Tapi…

Kenang-kenangan dr. Abdul Halim: Bab II

II. MENJADI ANGGOTA BADAN PEKERJA KNIP T: Pada pertemuan sebelumnya, Bapak telah menceritakan kepada kami bahwa Bapak mendatangi Bung Karno pada tanggal 14 Agustus 1945. [Mengapa] Bapak mendatangi Bung Karno. J: Saya termasuk yang menginginkan Proklamasi hendaknya dilakukan se­belum Jepang formal menyerah. Karena itu saya datang kepada Bung Kar­no. [ Saya katakan] , keadaan sudah…