Heritage

Simp. Kampuang Cino (A Yani Street) 1910-1930 [Picture: Hendra Saputra}

Historic relics in the city of Bukittinggi in fact is very much, it’s just the location that sunk. Historic buildings that can be enjoyed directly from the main road is concentrated to a few points only. Call it the Metro Police Bukittinggi City area and Kodim Agam area. The rest is located apart from each other like building the Old Prison, Railway Station of Bukit Tinggi, building of private property, house, Shop House in Pasar Atas, Bung Hatta Palace, the Clock Tower, and so forth.

Until now Bukit Tinggi still struggling to preserve a variety of objects, buildings, sites, or the historic district into the category of Cultural Property. Moreover, the existing Law No. 11 of 2010 regulating the Cultural Heritage. This city does not yet have a Regional Regulation (Perda) regulating the Cultural Property. Hopefully in the near future can be realized by the city government.

But instead of that, the basic pillars of this all is the community and stakeholders. Can anyone know? is there any conscious? and is there any encouragement to accomplish it?

In practical paced society where everything is weighed and measured from the point of view of profit or loss it will be very difficult to realize the preservation of this. Hopefully there is a desire from the public and stakeholders.
__________________________________________________

Peninggalan bersejarah di Kota Bukit Tinggi sesungguhnya sangatlah banyak, hanya saja letaknya yang tersuruk. Bangunan-bangunan bersejarah yang dapat dinikmati langsung dari arah jalan besar hanya terkonsentrasi kepada beberapa titik saja. Sebut saja Kawasan Polres Kota Bukittinggi dan Kawasan Kodim Agam. Selebihnya terletak saling terpisah seperti Bangunan Penjara Lama, Stasiun Kereta Api Bukit Tinggi, Bangunan Rumah milik pribadi, Ruko di Pasar Atas, Istana Bung Hatta, Jam Gadang, dan lain sebagainya.

Hingga kini Bukit Tinggi masih berjuang untuk melestarikan berbagai benda, bangunan, situs, ataupun kawasan bersejarah yang masuk ke dalam kategori Cagar Budaya. Apalagi sudah ada Undang-undang No. 11 tahun 2010 yang mengatur tentang Cagar Budaya. Kota ini memang masih belum memiliki Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur Cagar Budaya. Semoga dalam waktu ke depan dapat diwujudkan oleh pemerintah kota.

Namun daripada itu, tiang pokok dari ini semua ialah masyarakat dan pemangku kepentingan. Adakah tahu? adakah sadar? dan berkeinginankah untuk menunaikannya?

Dalam masyarakat yang serba praktis dimana segala sesuatu ditimbang dan diukur dari sudut pandang untung rugi maka akan sangat sulitlah mewujudkan pelestarian ini. Semoga saja ada keinginan dari masyarakat dan pemangku kepentingan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s