Athar, Hatta

Mohammad Athar atau lebih dikenal dengan Mohammad Hatta lahir pada tanggal 7 Jumadil Awal 1320 yang bertepatan dengan 12 Agustus 1902 di Kampung Aua Tajungkang  pada rumah berlantai dua yang di seberangnya terdapat jalan kereta api dengan latar Gunung Merapi & Singgalang yang selalu mengamati.

Bung Hatta adalah anak kedua, kakaknya bernama Rafi’ah. Adapun dengan ayahnya bernama H. Mohammad Djamil anak dari Syech Batu Ampa dan ibunya bernama Saleha yang merupakan anak sulung dari tiga orang bersaudara. Kakek beliau (Pak Gaek) Ilyas Gindo Marah, Nenek beliau (Mak Gaek) Aminah, dan Saleh St.Sinaro serta Idris yang merupakan mamak (saudara lelaki ibu) beliau.

Sang ayah meninggal tatkala Bung Hatta berumur 8 bulan sedangkan sang kakak baru berumur 2 tahun. Sang ibu kemudian dinikakan oleh sang kakek dengan seorang saudagar berdarah Palembang yang bernama Mas Agus H Ning. Dari pernikahan kedua dari ibu beliau, Bung Hatta mendapat empat orang adik perempuan; Zakiah, Halimah Tusa’diyah, Bariah, dan Bayariah. Bersukukan Jambak dan mendapat gelar Dt. Suri Dirajo.

Keluarga Bung Hatta sangat memperhatikan pendidikan beliau. Pagi hari bersekolah di Sekolah Rakyat, siang menjelang petang ikut les dengan seorang guru Belanda, dan malamnya beliau mengaji ke Surau Nyiak Djambek di Kampung Tangah Sawah. Kemudian beliau pindah bersekolah ke Padang hingga menamatkan MULO di kota tersebut.

Semenjak berada di Padang kemandirian beliau mulai terbentuk. Di kota ini pula beliau untuk bertama kalinya berkenalan dengan kehidupan organisasi, beliau menjadi pengurus perkumpulan sepak bola dan Jong Sumatera. Pada tahun 1919 beliau melanjutkan sekolah ke Prins Hendrik School di Betawi (Jakarta). Di jantung kolonial ini pulalah beliau pertama kali berkenalan dengan buku.

Di Negeri Belanda, kehidupan organisasi beliau semakin terasah. Menjadi perkumpulan mahasiswa Indonesia yang ada disana, memimpin delegasi mewakili Indonesia yang belum merdeka ke beberapa konfrensi internasional dan dengan lantang menuntu Indonesia Merdeka. Bersama beberapa orang rekannya pernah pula masuk penjara karena dituduh melakukan perbuatan makar terhadap pemerintah kolonial.

Demikianlah kehidupan seorang pejuang, diburu, ditangkap, dipenjara, dan dituduh menentang pemerintah yang sedang berkuasa. Tiada takut, tiada gentar, lawan-lawannya tetap segan padanya. Suatu sifat nan langka dan jarang kita temui pada masa sekarang.

#Memperingati Milad Bung Hatta 12 Agustus 1902 – 12 Agustus 2017

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s