Nasionalisme Bahasa

Kilas balik: BAHASA MELAJOE, Besar harapannja akan berkembang

Diwaktoe jang achir ini bahasa Melajoe mendjadi soäl: boléhkah dipergoenakan dalam sidang gementeraad atau tidak? Soäl itoe moela2 dalam gemeenteraad Betawi timboelnja. Beberapa lid Boemipoetera menjatakan kehendaknja akan memakai bahasa Melajoe dalam permoesjawaratan.

Kemoedian soäl itoe timboel poela dalam sidang gemeenteraad Soerabaja, Semarang dan achirnja djoega di Médan. Bahkan tidak moestahil, bahwa soäl itoe timboel djoega dalam sidang gemeente jang ketjil-ketjil ditempat lain.

Karena sedjak adanja gemeenteraad dinegeri ini dalam persidangan selaloe dipakai bahasa Belanda, ketika dipergoenakan orang bahasa Melajoe, orang terkedjoet; setidak-tidaknja orang merasa tjanggoeng; teroetama dipihak anggota bangsa Eropah. Ada poela orang jang tidak sadja merasa tjanggoeng, tetapi dianggap aksi memakai bahasa Melajoe itoe aksi politik. Sebab itoe pemandangan orang tentang soäl bahasa Melajoe itoe mendjadi agak kaboer.

Pemandangan orang makin bertambah kaboer, ketika dari pihak jang satoe dikemoekakan bahwa jang akan dipakainja itoe boekan bahasa Melajoe seperti jang lazim diadjarkan disekolah-sekolah (bahasa Melajoe-Riau), akan tetapi bahasa jang lazim dipergoenakan orang dimana-mana sekarang ini, baik dalam pergaoelan maoepoen dalam persidangan2 dan soerat-soerat kabar. Oléh anggota-anggota itoe, bahasa jang demikian itoe diseboet bahasa “Indonesia”. Bertambah kaboer, karena dengan segera dari pihak lain dinjatakan, bahwa bahasa jang demikian itoe katanya sebenarnja tidak ada.

Pendéknja dalam sidang gemeenteraad itoe timboel doea boeah golongan, ja’ni pihak jang ingin memakai bahasa Melajoe (teroetama pihak anggota-anggota Boemipoetera) dan pihak jang tidak moepakat (teroetama pihak anggota-anggota Eropah). Ada poela pihak jang tidak setoedjoe boekan karena apa-apa, melainkan karena kalau dipakai orang bahasa Melajoe, permoesjawaratan akan mendjadi serat [seret; susah] djalannja. {1059}

Sementara itoe soäl terseboet tetap mendjadi soäl, karena pihak jang menjoekaïnja merasa tidak melanggar peratoeran, dan ingin memadjoekan bahasanja. Sedang pihak jang keberatan tetap poela tidak mentjaboet keberatannja.

Dalam pada itoe sekarang soäl itoe soedah madjoe selangkah lagi, karena oléh toean [M.H.] Thamrin dibawa kesidang ‘oemoem Volksraad.

Pembitjaraan toean Thamrin itoe tentoe akan ada ‘akibatnja, sebab biasanja pemandangan anggota dalam sidang Volksraad selaloe mendapat djawaban dari Pemerintah.

Bagaimana djawaban Pemerintah itoe kelak, baiklah kita nantikan dahoeloe.

Bertali dengan adanja soäl itoe barangkali baik djoega kami kemoekakan disini, bahwa dalam sidang Volksraad soedah lama dipakai oléh beberapa orang anggota bahsa Melajoe. Jang moela2 mempergoenakannja dahoeloe, kalau kami ta’ salah, Kandjeng Pangéran [Hoesein] Djajadiningrat. Orang tahoe bahwa beliau amat fasih berbahasa Belanda; bahkan tidak sedikit orang – bangsa kitapoen djoega – jang mengatakan, bahwa bahasa Belanda beliau lebih bagoes dari pada bahasa Melajoenja. Apa maksoed beliau mempergoenakan bahasa Melajoe, oentoek tjontoh, oentoek adjakan pada anggota jang lain-lain jang fasih berbahasa Melajoe, atau sekadar karena diperkenankan oléh oendang-oendang sadja, entahlah kami ta’ tahoe. Karena beliau hanja sekali itoe sadja berbahasa Melajoe dalam sidang Volksraad, sedang anggota-anggota jang lain ta’ada jang mengambil teladan.

Kemoedian toean H. A. Salim pernah djoega berbahasa Melajoe. Adapoen lid jang selaloe berbahasa Melajoe ialah toean Jahja gelar Datoek Kajo.

Sedjak itoe poela di Volksraad dikerdjakan stenograaf (pentjatat pembitjaraan) bahasa Melajoe. Ta’ oesah dikatakan, bahwa jang tjakap mengikoeti pedato toean Datoek Kajo itoe hanja anggota-anggota jang paham bahasa Melajoe (teroetama anggota-anggota Boemipoetera) sadja. Soepaja pedato itoe dapat djoega diartikan [dipahami] oleh segenap [anggota] Volksraad dan Pemerintah, disalin dalam bahasa Belanda, dironéo (ditjétak dengan mesin ték) dan disiarkan kepada pihak jang tidak atau jang koerang paham bahasa Melajoe.

Njata keberatan orang, jang menjatakan bahwa memakai bahasa Melajoe itoe menjeratkan [menyusahkan] djalan permoesjawaratan, boekan omong kosong. Akan tetapi kata anggota-anggota jang memakai bahasa Melajoe itoe: bahasa Melajoe bahasa disini; oléh oendang-oendang diperkenankan memakai; bila lagi akan dipakai? Tentoe moela-moela tjanggoeng, tetapi lama-lama tentoe tidak; dan karena dipakai bahasa makin hidoep, makin loeas daérahnja, makin terpakai dalam pergaoelan hidoep sehari-hari…..

Sedjak zaman toean Datoek Kajo dalam sidang Volksraad kian lama kian banjak dipakai orang bahasa Melajoe. Dan hal ini teroes berdjalan makin loeas. Toean Thamrin beberapa hari jang laloe telah menjatakan, bahwa oléh beliau dengan fraksinja akan dipakai bahasa Melajoe.

*

Sekian tentang bahasa Melajoe dalam sidang Volksraad dan gemeenteraad. Dalam sidang regenschapraadpoen bahasa Melajoe itoe dipergoenakan orang djoega. {1060}

Kalau pembatja peringati poela bahwa dilapangan perniagaan, besar dan ketjil, banjak djoega dipakai orang bahasa Melajoe, djelaslah bahwa bahasa Melajoe itoe besar harapannja akan berkembang. Soedah tentoe bahasa dalam kalangan perniagaan – segala bangsa – bersifat jang orang katakan bahasa Melajoe-Tionghoa, karena dalam perniagaan orang Tionghoa amat besar pengaroehnja.

Disekolah-sekolah Goebernemén dan oléh Balai Poestaka dipergoenakan bahasa Melajoe jang sesoeai dengan peratoeran-peratoerannja jang asali. Akan tetapi oléh karena bahasa itoe hidoep bersama-sama dengan masjarakat, bahasa dalam sekolah dan bahasa Balai Poestaka boekan bahasa jang hanya berpegang pada kata-kata jang terdapat di Riau dizaman jang laloe sadja. Boekankan bahasa jang demikian [sudah] mati! Dalam pada itoe oléh Balai Poestaka disjaga poela djanganlah bahasa itoe diperkosa.

Djangan diloepakan pengaroeh persidangan2 oemoem, jang diadakan oléh pihak pergerakan, dan pengaroeh kaoem penoelis dan pers jang berbahasa Melajoe! Semoea itoe toeroet membentoek bahasa jang hidoep sekarang ini. Memang senantiasa terdapat orang jang memoengkiri pengaroeh-pengaroeh terseboet. Akan tetapi kalau kita bandingkan bahasa Melajoe misalnja 10 atau 20 tahoen jang laloe, baik bahasa Melajoe dalam boekoe-boekoe, maoepoen dalam pers dan vergadering-vergadering, dengan bahasa Melajoe jang lazim dipakai orang sekarang, amat njata perbédaanja.

Bahasa itoe amat besar pertaliannja dengan semangat; semangat baik bahasa naik; semangat toeroen bahasa toeroen. Sebab itoe soäl bahasa sebenarnja adalah soäl semangat. {1061}

***

Sumber: Majalah Pandji Poestaka, No. 57, Th. XVII, 19 Juli 1939, hlm. 1059-1061. Teks disalin sesuai ejaan aslinya, dengan sedikit tambahan beberapa kata dalam tanda ‘[ ]’ oleh penyalin. Nomor dalam tanda ‘{ }’ merujuk pada halaman pada naskah aslinya.

Penyalin: Dr. Suryadi, Leiden University

__________________

Disalin dari blog Engku Suryadi Sunurihttps://niadilova.wordpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s