= Nasib Pasa Lamo Awak =

(foto: Pasa Bawah Bukittinggi)

Pasa bawah market, there was a Heritage building made by the Dutch. We can find this kind of market on this time, not only on Bukit Tinggi but also in another city or market in Minangkabau or West Sumatera. But many one doesnt realize about this heritage and most like destroy that and make a new building were (they considered) more better than the old.
The awareness about heritage in few city has not yet appeared. Most of the leader think that the modern city should be build by change the old building with the new one were more economic valuable and can increase city/regency/ state income.

_______________________________

Pasar ini dibagun oleh Belanda pada awal abad 19, pasar ini dulunya sangat rapi, teratur dengan pembagian los-los (hall besar yg dibagi2) yang jelas kelompok ‘galeh’ nya.. Bangunan utama struktur baja yang kokoh dengan atap2 seng tebal sudah sangat mewah kala itu.. Soal drainase, kebersihan, pemeliharaan, keamanan, ketertiban dan lain2 sangat diperhatikan oleh kompeni.. Kepala pasar benar2 ibarat raja yg mengatur baik sebuah negara..

Belanda (yg penjajah kejam itu) memang sangat concern pada kegiatan ekonomi rakyat jajahannya, mungkin karena di kampung mereka, pasar juga diatur rapi dan mereka mungkin pusing, kik palo dengan balai yang ‘basalemak peak’.. 🙂

Bagi belanda, pasar yg baik akan menggerakkan kehidupan ekonomi dari bawah, jika ekonomi lapis bawah sehat, maka ekonomi di atasnya juga akan lebih sehat, akhirnya pajak dan pungutan juga meningkat, pemikiran yang cadiak.. Belanda telah membangun ratusan pasar ‘canggih’ di hindia belanda..

Setelah Indonesia merdeka, pasar ini masih baik kualitasnya, walaupun beberapa kali terbakar, mungkin hingga awal 90an pasar ini masih bisa dibilang ‘layak’ untuk kelas kota Bukittinggi…

Akan tetapi setelah reformasi, otonomi, setelah sekitar 100 tahun usia pasar ini, nasib pasar ini seolah tidak diperhatikan lagi dengan baik. Pasar rakyat terbesar di Salingka Agam, mungkin juga Sumbar ini seolah tenggelam dalam jalanan lanyah yang mengepungnya, makin busuk oleh sampah yang menyumbat saluran airnya, semakin kacau kelompok galehnya, dan makin sembrawut pinggiran dan sarana penunjangnya,.. Lah cando banang kusuik babiak!

Pembenahan pasar2 tradisional saat ini tidak bisa lagi sekedar tambal sulam seperti yang sudah2, tidak bisa lagi dengan manumbok2 atok tirih atau mangabek2 tiang ereng.. Harus ada Program besar Rehabilitasi, Revitalisasi bahkan Rekonstruksi yang mengembalikan pasar2 ke kondisi awal, meningkatkan kualitasnya, mengoptimalakan dan memaksimalkan lahan yang ada, dan tentunya tidak menghilangkan unsur sejarah dan nostalgia yang telah memberi warna pada warganya..

Ada beberapa hal yg jadi landasan konsep:
-Rekonstruksi-Revitalisasi-Optimalisasi lahan
-Reorganinasi ruang dan kategori (Space, zoning & traffic flow management)
-Utilitas dan amenitas (fasilitas pendukung dan kenyamanan)
-Heritage, preservasi unsur2 cagar budaya dan sejarah, tidak hanya main babat dan bangun baru..
-Operating Management Plan, pasar dikelola secara profesional dan modern..

Semoga pengelola kota Bukittinggi dan kota2 lain ke depan bisa memperhatikan hal2 ini dalam rencana besar untuk menghidupkan kembali ekonomi pasar rakyat minang yang lah lamo baluluak…

(joni.a.koto 92015)

_______________________

Disalin dari: Facebook Joni A Koto

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s