Kenang-kenangan Abdul Halim X

  1. MENJADI MENTERI PERTAHANAN

T: Kami ingin menanyakan kepada Bapak, sekitar masalah-masalah ketika Bapak menjadi Perdana Menteri R.I. di Yogyakarta. Masa-masa itu mung­kin sangat menarik, tapi belum pernah diungkapkan di mass media, atau katakanlah tidak pernah ditulis. Masalah itu mungkin saja sangat lucu bagi Bapak, atau sebaliknya Bapak tidak begitu senang atau malah men­dongkol dengan adanya masalah itu. Untuk permulaan, bagaimana approach Bapak terhadap para menteri yang terdiri dari berbagai macam kekuatan politik itu, sehingga di dalam mengambil keputusan keputusan bisa dilaksanakan dengan lancar.

J: Apa yang saudara katakan bahwa menteri-menteri saya banyak warna-­warninya, artinya aliran politiknya, itu memang benar. Dan memang ke­tika kabinet terbentuk saya telah membuat program pemerintah untuk disampaikan kepada Badan Pekerja. Saya sebagai bekas anggota Badan Pekerja sudah tahu liku-likunya. Justru karena itulah tidak banyak meng­hadapi soal yang sulit-sulit. Sebagai Perdana Menteri R.I. Yogya, kesa­lahan kami hampir-hampir tidak kelihataan, dibanding dengan mereka yang duduk di RIS. Sebab untuk hubungan internasional dikerjakan oleh RIS. Lobbying-lobbying juga banyak. Saya tidak pernah memanggil seorang menteri kalau saya perlukan, Karena padaumumnya menteri­-menteri saya itu lebih tua dari saya. Terlebih dahulu saya telepon. Ke­mudian saya datang dengan menyetir mobil sendiri tanpa pengawal. Wah banyak juga yang protes, oleh karena justru saya yang mendatangi mereka. “Saya yang harus datang kepada Perdana Menteri”, kata mereka. Satu hal yang agak panting adalah ketika [kita] menghadapi guntingan [uang] yang dilaksanakan Menteri Keuangan RIS, Sjafruddin Prawira­negara. Dan memang [sebelumnya] Yogya samasekali tidak diajak konsul­tasi. Menteri Pendidikan saya, almarhum pak Mangunsarkoro [merasa] di by pass. Dia adalah figur yang sangat berpengaruh di PNI. “Ini tidak bisa, ini tidak bisa,” katanya. Dan saya mendengar itu dari Lukman Hakim. Paginya kita mendengarkan radio, [kemudian] malamnya kita adakan sidang mengenai itu. Saya telepon rumahnya pak Mangunsarkoro. Saya tanya mbakyu Mangunsarkoro, apa pak Mangun ada di rumah atau tidak, ada maksud saya datang siang hari itu. Saya kangen ingin makan disana, kata saya. Hebat kan. Saya datang kesana. Saya bawa Lukman Hakim. Kami diterima oleh mbakyu Mangunsarkoro. ”’Piye Lim” [katanya] da­lam bahasa Jawa, Wah mas Mangun marah-marah. Dia masih di kamar itu. Terus dia datang. Cerita keadaannya. Yang utama adalah rasa harga d­irinya yang di by pass…

T: Apanya yang di by pass.

J: Ya. Katanya, “tidak diajak konsultasi lebih dahulu. Kenapa Pemerintah R.I. Yogya di-fait accompli kan“. Kelihatan emosinya mengenai itu. Sesudah makan Lukman mulai bicara. Ia ceritakan, kalau ada konsultasi sudah tentu bocor, atau banyak kemungkinan akan bocor. Pasti. Apalagi konsul dengan Yogya. Tidak bisa. Suatu [kebijaksanaan] moneter, jika diketahui orang lebih dahulu akan hancur. Banyak orang yang akan mengambil keuntungan. Jadi [bisa] rusak, ia tekankan begitu. Beliau belum juga yakin, dan akan mempersoalkannya juga dalam sidang kabinet malamnya. Terus dia bilang, ndas ku ngelu… (kepala saya sakit rasanya). Naah itulah, tidak boleh marah-marah, saya bilang. Nanti deh, saya kirim obat. Kemudian saya diantar oleh mbakyu ke mobil. Jadimbakyu kan dengar, sebetulnya sedih. Saking jengkelnya lama Sjafruddin tidak bicara. Tapi beliau tidak banyak bisa mengajukan fakta-fakta. Dia bilang lama saya, “oooo dik Halim jangan takut deh. Kamu pintar. Datang ke sini saja dia sudah senang. Saya tahu pak Mangun tidak apa-apa. Betul mbakyu, tenan, kata saya dalam bahasa Jawa. “Tenang saja sudah, percaya deh, katanya. OK deh. Dalam sidang Kabinet lebih dahulu bicara Pejabat Presiden Mr. Assaat. Kemudian saya minta bicara Menteri Keuangan kita.

T: Siapa itu.

J: Lukman Hakim. Seterusnya Menteri Dalam Negeri Susanto Tirtoprodjo, orang PNI juga. OK. Dalam rapat itu pak Mangun masih meminta, “Kalau lain kali kalau [RIS] mengambil suatu tindakan yang menyangkut seluruh Indonesia, kita harus diikutsertakan, tidak bisa tidak.” Saya bilang, se­tuju. Terus terang, hal itu jelas sudah menyalahi.
Tapi soal ini
kan sudah lewat… (sambil ketawa). Jadi, saya menyokong, saya bilang. Saya juga merasa diri saya di by pass. Tapi bagaimana lagi, keadaan sudah begini. Tambah kita mengadakan oposisi, bertambah kacau. Ya, OK-lah. Saya bilang ke Sekretaris Kabinet, apa yang pak Mangun katakan, dicatat. Habis. Jadi selesailah itu toh. Dengan demikian hampir tidak ada soal yang sulit, sebab saya selalu bersedia mengadakan lobbying lebih dahulu. Hampir setiap perundingan yang penting itu sebe­tulnya ada lobbying [barul sidang paripurna kabinet. Sering deh, before sidang sudahfinished, sudah bisa diterka, ini gol atau tidak. Sebab kita [memakai] cara personal approach yang sudah saya perdapat ketika saya menjabat wakil direktur di rumah sakit umum pusat, pada masa Jepang. Saya sudah pandai membawakan diri. Persis dulu juga, kalau saya mau memanggil yang tua-tua itu, selalu saya [bilang], dokter, Prof. boleh saya datang sebentar ke sana. Yang tua-tua merasa, “anak ini aneh. Saya berhak untuk memanggil [mereka] ke kamar saya. Saya tidak lakukan itu. Tapi selama enam bulan menjadi wakil direktur itu, semuanya, Prof. Aulia, Prof. Asikin [almarhum] , Prof. Hidayat (almarhum), Sartono, yangtua-tua itu [bilang], “Zeg, kamu kita akui penuh. Panggil kita kalau perlu. Tahun 44 saya sudah mendapat pengakuan begitu di rumah sakit. Ini ternyata suatu bekal untuk selanjutnya. Jadi, saya ulangi, soal-soal yang rumit tidak ada. Jadi Perdana Menteri tidak ada kesulitan. Hanya mula-mula, ketika mereka belum kenal saya. Setelah mereka kenal, saya tidak mendapat kesulitan di mana-mana. Jadi keadaan di Yogya pada waktu itu, di dalam [usaha] menarik negara-negara bagian [dengan] mengirim orang, ke sini, ke situ, tidak sulit kita hadapi. Ketika BFOBijeenkomst voor Federaal Overleg itu datang ke Yogya, saya ikut bicara dengan mereka. Kami sudah yakin, bahwa mereka akan bisa dipengaruhi oleh orang-orang Republik. Sebab deep in their heart, mereka setuju de­ngan kita. Mereka bisa hidup [karena] di bawah payung Belanda. Itu jangan dikasih lihat, jangan dirasakan kepada mereka. Saya bilang, “ah kamu ini tidak apa. Jadi soal approach saja. Karena itulah ketika KMB itu, Bung Hatta mau menerima [komposisi] R.I. hanya 1/3 mereka 2/3. Akhirnya BFO kan lebih hebat menyokong kita. Hatta mengerti itu.

T: Program utama Bapak adalah negara kesatuan.

J: Ya, memang, program utama, the most important thing adalah ini. Dan itu mengenai emosi rakyat, artinya kena dengan perasaan rakyat. Bebe­rapa penguasa di negara-negara bagian merasa, “kalau begini nanti saya ketinggalan kapal atau ketinggalan bus. Lebih baik saya bergabung. Saya kan bisa dipakai lagi dan sebagainya.” Ada juga cuma interestlah, vested interest. Jadi itulah tidak ada kesulitan.

T: Seperti juga revolusi-revolusi di manapun, sehabis revolusi itu peranan kaum militer tidak bisa dilepaskan dan diremehkan begitu saja. Dalam kerangka ini Yogya sangat terkenal dengan peranan-peranan militer­nya. Saya ingin tanyakan bagaimana hubungan Bapak dengan militer ini. Barangkali ada yang terkesan baik sebagai pimpinan kabinet maupun pribadi.

J: Saudara jangan lupa, mereka berada di bawah jurisdiksi dari Menteri Pertahanan RIS. Jadi secara formal R.I. Yogya tidak mempunyai tentara. Namun demikian understanding antara Sultan dan saya [ada] , karena dulu saya juga aktif dalarn perjuangan, kalau boleh saya katakan begitu. Bagi saya tentara bukanlah jadi persoalan. Di dalam perjuangan itu, pimpinan tentara juga kenal dengan saya. Waktu saya jadi Perdana Menteri, Pak Dirman berada di rumah sakit Magelang. Orang-orang yang pada waktu itu memegang tampuk pimpinan Angkatan Darat, saya sudah kenal baik. Ambil umpamanya, Bambang Sugeng di Jatim, Nasution Panglima Jawa, dan Simatupang yang sebelumnya ada di Kulonprogo waktu perjuangan. Saya di Yogya. Kurir kami adalah Haryono, kemudian jadi Jenderal yang sudah meninggal waktu Gestapu itu. Juga di Jawa Timur Sungkono, di sini Didi Kartasasmita, jangan lupa Jenderal Mustopo, pada waktu itu saya sudah dikenal mereka. Selain itu saya juga sering mengadakan kuliah, umpamanya di Tentara Pelajar Solo, di Banjamegara, di Wonosobo, diCilacap. Jadi saya di tentara itu bukan [orang baru]. Saya tidak ada ke­sulitan. Kembali ke soal-soal yang men.arik, saya sudah hampir lupa. seakan-akan saya mimpi jadi Perdana Menteri, karena habisnya terlalu cepat.

T: Beberapa bulan kemudian sudah lahir Negara Kesatuan.

J: Ya. September 1950.

T: Saya ingin dengar cerita Bapak, saat-saat terakhir dari masa jabatan Bapak itu sebagai Perdana Menteri..

J: Ya kami membentuk delegasi, diketuai oleh Wakil Perdana Menteri saya, Abdul Hakim [untuk] berunding di Istana Merdeka. Di antara anggota delegasi ada Mr. Tambunan (almarhum). Ada prosedur semuanya. Saya terus terang,not so much interested di dalam persoalan. Kami menga­dakan rapat terakhir antara RIS dan RI., di mana Bung Hatta berhadap­an dengan saya di Istana. Bagi saya habisnya bukan kayak mercon, tapi ces-ces-ces, kayak ban kempes. Begitulah habisnya (sambil tertawa) Jadi persetujuan bersama sudah selesai, kedua kabinet bubar.

T: Dengan sendirinya.

J: Dibentuk Kabinet Negara Kesatuan. Ditunjuk sebagai formateur Moh. Natsir. Saya masih di Yogya itu.

T: Kemudian Bapak pulang ke Yogya.

J: Ya, Setelah Kabinet bubar ditunjuk formateur, dan [muncul] Negara Kesatuan, saya [kemudian] naik mobil dari Yogya ke Jakarta. Saya sudah memesan tiket untuk ke Hongkong buat dua Minggu. Tiket kapal KPM. Mau istirahat, capek dalam segala hal. Sampai di Semarang, di rumah Gu­bernur, menginap di situ.

T: Gubernur Jawa Tengah.

J: Ya. almarhum pak Budiono. Di situ saya dapat interlokal dari formateur. Dia bilang, “kita sudah setengah mati. Pendek kata kalau you tidak mau menjadi Menteri Pertahanan, mandat saya kembalikan.”

T: Itu yang ngomong siapa,

J: Natsir,

T: Bapak menerima [ interlokal itu] di rumah pak Budiono.

J: Ya. Saya di rumah pak Budiono.

T: Terus.

J : Saya maki-maki tentu. Kan dia selama perang [kemerdekaan] ada diYogya kan. dia sebagai Menteri penerangan. Mobilnya kan saya yang selalu pakai itu. Saya paling dekat dengan dia. Saya bilang, lu gila Sir. Gua sudah capek betul. Tidak bisa, Saya mau ke Hongkong. [Dijawabnyal, benar Lim. Saya sudah bicara dengan semua orang. Kalau ye tidak terima, saya akan kembalikan mandat, saya marah, kembalikan saja (diam sejenak).
Setelah itu saya ngobrol lagi dengan mbakyu Budiono dan pak Budiono. Pukul 11 datang lagi interlokal (sambil ketawa). “Natsir di sini, bagaima­na”, [katanya]. Jij sudah kembalikan mandat, [kata saya]. “Belum”, katanya, “mau pikir-pikir”. Aduh Sir, saya tidak pernah mimpi Sir. “Tidak usah mimpi deh, terima saja”, [desaknya]. Memang kadang-­kadang teman tidak enak deh. Dari sejak mula saya dimintanya jadi Menteri Pertahanan. Jadi dalam perjalanan saya keesokan harinya [ke Jakarta], wah gila, gue jadi Menteri Pertahanan. Begitulah ceritanya, [saya] jadi Menteri Pertahanan.

T: Tiket ke Hongkong jadinya dikembalikan.

J: Tidak. Kan belum dibayar, baru dibooking saja. Itu memang historic.

T: Jadi penawaran menjadi menteri itu hanya melalui telepon.

J: Ya.

T: Menarik juga

J: Apanya yang menarik. Saya marah-marah. Punya teman satu saja, bikin gua begun, begitulah saya bilang [dalam hati] . Hal itu hanya bisa terjadi karna saya sudah bertahun-tahun [dekat] dengan Natsir. [Di telepon] Natsir bilang, your,friend juga bilang, ye saja deh. Dus Sri Sultan juga berpendapat begitu, kan dia Menteri Pertahanan RIS. Rupanya dia bilang sama Natsir, “Halim minta jadi Menteri Pertahanan”. Jadi Natsir kuat.

T: Karena disokong Sultan.

J: Ya. Dia juga bilang sama saya, “your friend juga setuju. Saya sudah tahu siapa yang dimaksudnya. Siapa lagi, dicari orang partai, kacau. Nah jadi, saya kembali ke Jakarta itu sudah dengan jabatan Menteri Pertahanan. Itu betul, Itu benar-benar terjadi, bukan anekdot, ada lagi yang saya alami.

T: Ooo ya, apa itu.

J: Pada suauu hari (diam sejenak), Presiden Sukarno ingin pergi ke Manila untuk menemui Presiden Elpidio Quirino…

T: Tahun 50.

J: Ya. Beliau baru [bisa] pergi setelah saya berhenti jadi menteri pada bulan Desember [1950]. Perginya baru tahun 1951(sambil ketawa). Saya bilang kepergian seorang Presiden ke luar negeri adalah semata-mata karena ada soal atau kebijaksanaan politik. Karena sebelumnya telah dipersoalkan apakah Presiden boleh pergi atau tidak. Aaaa ramai. Sebab Bung Karno-lah namanya. Dia kalau mau pergi siapa yang bisa tahan. Saya persoalkan. Saya dapat [informasi] Elpidio Quirino punya nama tidak baik. Saya anggap merugikan R.I. dan hanya menguntungkan Elpidio Quirino, jika Presiden Sukarno jadi pergi ke sana. Dus tidak usah Presiden pergi. Saya ingin supaya dipersoalkan oleh sidang. Di situlah saya lihat, Bung Natsir sudah pegang rambutnya begini (sambit mencon­tohkan orangmengusap rambut). Dia sudah tahu bahwa ini bakal ramai.
Pungut suara [ternyata] Presiden tidak boleh pergi. Yang mesti mengata­kan [keputusan] itu adalah Perdana Menteri den Raden Pandji Suroso, kalau saya tidak salah, Menteri yang tertua.

T: Apakah waktu itu Presiden den Wakil Presiden tidak ada dalam sidang.

J: Tidak ada. Bung Hatta juga tidak ada waktu itu, entah ke mana. Mereka itu harus datang ke Istana untuk mengatakan, “no go”

T: Kepada Bung Karno.

J: Ya ke Bung Karno. Aaa saya tahu, dengan perbuatan saya itu kalau Presiden tidak jadi pergi, jatuhnya [kabinet] Natsir itu cuma menunggu waktu yang baik saja bagi Bung Karno. Sesudah saya tahu begitu, wah jelek ini kalau begini, saya pikir, maka itu tanggal 17 Desember 1950 saya minta berhenti sebagai Menteri Pertahanan. Saya buat alasan karena kesehatan saya tidak begitu mengizinkan. Kemudian saya kirimkan kepada Perdana Menteri. Dan mulai tanggal 17 Desember, saya menganggap saya bukan Menteri Pertahanan lagi. [Pekerjaannya] diambil over oleh Natsir ad interim, Perdana Menteri yang memegang. Sudah itu, saya dengar Presiden akan ke Manila. Tentu saja saya telepon Natsir. Sir, lu gila, kok jadi begini (dia kawan saya toh). “Ya”, katanya, “sejak kamu berhenti kami jadi orang-orang baik semua” (sambil tertawa terbahak­-bahak) Nah itu suatu kejadian yang sebenar-benarnya (diam sejenak). Kedua, yang saudara perlu juga, ketika Istana Bogor akan direstorasi dengan biaya tiga juta rupiah. Wah, waktu itu tiga juta rupiah bukan main banyaknya. [Kejadian] itu sebelum saya berhenti.. Ini saya ceritakan, karena ada juga anekdotnya.

T: Silahkan.

J: Saya pakai mobil Plymouth 1949. Saya bicara sama Sultan. Zeg, bagai­mana ini. Lihat deh, masa enak saja uang tiga juta. Kita tidak dikasih tahu, mau pakai duit tiga juta. Tiga juta banyak itu.

T: Tiga juta rupiah.

J: Ya. Saya bilang sama Sri Sultan, you mau, [kalau] kita lihat ke sana. OK, [katanya] . Saya nyetir ke Bogor. Wakil Perdana Menteri [duduk] Sebelah saya.

T: Tidak pakai sopir.

J: Tidak. Style cowboy toh. Istana itu kan dijaga oleh CPM. Kalau mau masuk kan mesti turun dulu [dipenjagaan] .Saya pura-pura tidak tahu saja. Saya terus saja. Mereka kaget. “Berhenti”, [teriak penjaga]. Datang komandannya. “Kenapa begini”, katanya. Kan saya tidak disuruh berhen­ti. “Ya, tapi toh mesti berhenti sendiri”, [katanya].

T: Dia tidak tahu Menteri Pertahanan ada di dalam mobil.

J: Ya. Saya cuma sopir. Ya yang menyuruh adalah Bapak di sebelah [kata Saya]. “Siapa [kata mereka] . Mereka lihat itu Sri Sultan. “Wah Ngerso dalem”, [katanya] . orang Jawa rupanya. Kami diam seben­tar. [kemudian] saya tanya, bagaimana, boleh terus apa tidak.

[Ialu] Sultan berkata, “kalian tahu Menteri Pertahanan kalian”, sambil menunjuk kepada saya. Kaget mereka. Kita pergi (sambil tertawa terpingkal-pingkal). OK. Kita masuk. Ketika mau keluar lagi dari Istana Bogor setelah melihat istana yang sedang diperbaiki itu, kami kembali lagi ke tempat itu. Wah dari jauh sudah terdengar [aba-aba] , “siaaaap”, deret­an begini-begini. Wah (ketawa geli)

T: Menteri Hankam-nya mau ke luar ya.

J: Ya. Itu cowboy-rya kami berdua.

T: Kalau pakai mobil dinas tentu mereka akan mengerti.

J: Oooo ya. Kalau kami ke sana, Saya bawa nomor rendah, menteri toh, Berapa itu untuk Menteri Pertahanan. Inilah yang bisa Saya ceritakan selama jadi Menteri Pertahanan.

T: Sebetulnya Bapak minta berhenti jadi menteri itu, alasan pokoknya apa.

J: Ya. Saya anggap kalau saya tetap tinggal di sana, terus terang saja, saya akan menjatuhkan Natsir. Saya cukup banyak makan asam garam deh untuk menyadari hal itu, (diam-lama).

T: Nah ini Bapak Halim.Kita telah menyelesaikan wawancara kita dari sejak periode Jaman Jepang, sekitar Proklamasi Kemerdekaan Republik Indone­sia, revolusi fisik, sampai tahun 1950. Kita telah melewati dua masalah, yakni masalah pendidikan dan masalah politik. Maka selesailah wawancara kita. Sampai ketemu nanti dengan topik yang lain.

https://aswilblog.wordpress.com/2008/12/10/kenang-kenangan-dr-abdul-halim-bab-x/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s