Kenang-kenangan dr. Abdul Halim: Bab IX

  1. Picture: Tropen Museum

    MEMBENTUK KABINET HALIM

T: Kali ini kami mohonkan dr. A. Halim dapat menceritakan beberapa masalah sekitar terbentuknya Kabinet Halim di Yogya pada tahun 1950, dan persoalan-persoalan yang terjadi sebelum terbentuk Kabinet itu.

J: Ya. Sebenarnya pada waktu itu saya tidak pernah impikan akan jadi Per­dana Menteri. Juga [saya] tidak pernah menginginkannya. Saya malahan sudah siap-slap untuk kembali ke Jakarta setelah pengakuan kedaulatan kepada Republik Indonesia. Dan kembali ke profesi saya sebagai dokter ahli THT, bekerja di rumah sakit umum pusat. Tapi apa mau dikata. Rupa-rupanya antara Masyumi dan PNI, dua partai terbesar pada waktu itu, tidak dapat kata sepakat, siapa dari mereka yang akan menjadi Perdana Menteri. Sedangkan soal Pejabat Presiden tidak menjadi masalah, sebab Mr.Assaat sebelum menjadi pejabat itu adalah Ketua Badan Pekerja dan Ketua KNIP. Presiden [Sukarno] ke Jakarta, dan Mr. Assaat menjabat Presiden [R.I. Yogyakarta]. Lain persoalannya dengan Perdana Menteri. Saya kaget. Pada suatu ketika saya didatangi oleh Bung Natsir dan al­marhum Mangunsarkoro. Mereka datang tidak bersama-sama. Bung Natsir menawarkan, “Masyumi bisa menerima Bung Halim menjadi Perdana Menteri. Kita tidak bisa mengajukan personalia yang bisa diterima PNI. Sebaliknya kita juga tidak bisa [menerima] orang PNI. Mereka mempu­nyai [ calon ] tapi kita tidak bisa terima.”

T: Apa yang menjadi pertengkaran mereka. Apa sebetulnya yang [terjadi] di belakang layar.

J: Itu sulit untuk menyebutkannya, tapi saya [kira] seakan-akanrivalry.

T: Antara tokoh atau antara partai.

J: Ya. Di kita sangat sulit untuk mengatakan, apa yang persis semata-­mata soal kepentingan partai tanpa dicampuradukkan [dengan] kepen­tingan pribadi. Sampai sekarang di Indonesia sulit untuk memisahkan itu. Jadi, saya menolak waktu itu. Pak Mangun dan Lukman Hakim mengata­kan kepada saya, “itu baru ide dari orang-orang PNI yang demokrat yang bisa menerima dr. Halim sebagai formatur dan Perdana Menteri. Jadi be­lum tentu diterima kalau dibawa ke [rapat] Dewan Partai.” Saya sendiri tidak mempunyai ambisi. Saya tidak terlalu interested, bodo amat, begitu toh. Saya bukan orang politik. Memang ternyata setelah diadakan rapat Dewan Partai PNI, “karena tidak ada persesuaian dengan Masyumi, PNI, dapat menerima figur dr. Halim”. [Usul] diajukan oleh Susanto Tirto­prodjo dan beberapa orang dari PNL Saya dengan Mr. Sartono su­dah [dekat] sejak saya di INPO, suatu organisasi [kepanduan].

Tahun 1927 dia sudah jadi advokat. Minta duit sama dia. Wak­tu pergi ke Bandung naik sepeda. Tapi later on kami di Purwo­rejoclash di Badan Pekerja. Acap kali dia bilang, “kowe itu ku­walat Lim ” Dalam rapat Dewan Partai PNI dia bilang, “kalau kalian sudah bisa menerima dr. Halim; mbok Sjahrir sisan,” bahasa Jawa itu. “Kalian tanggung-tanggung, kenapa tidak Sjahrir saja yang diajukan.” saking jeng­kelnya Sartono. Saya dapat laporan dari Lukman Hakim. Akhirnya dia terima [juga]. Tapi saya tidak terima. Sudah itu datang Bung Djohan Sjahroezah di kamar saya di Hotel Merdeka, don dia bawa surat dari Bung Sjahrir. Rupanya partai Soska ini sudah [memutuskan], “Halim mesti terima ini.” Saya dapat surat dari Sjahrir. Saya masih ingat, “Bung, kalau berjuang jangan kepalang tanggung,” kata suratnya. Pikir punya pikir, pikir punya pikir, ya, saya mencoba mengevaluir saya. Memang, de­ngan konstelasi politik yang ada di Badan Pekerja KNIP, saya merasa bisa menguasai, dengan arti kata saya tidak pernah merasa rendah diri dari siapa pun disitu. Walaupun terhadap meester in de rechten, tidak ada. Cara lobbying dan sebagainya. Tapi lain kalau kita akan menjadi [seorang] eksekutif, ya. Eksekutif cuma satu. Saya punya pikir, lama-lama akhir­nya Bung Natsir datang lagi sama Prawoto, almarhum, kawan saya. Pra­woto itu akan jadi Ketua Badan Pekerja, menggantikan Mr. Assaat. Pendek­nya mereka mendesak. Oleh karena itu saya terima. Mula-mula saya masih main-main. Saya ditunjuk menjadi formateur. Secara teoritis formateur tidak harus menjadi Perdana Menteri. Bisa saja kalau mau. Tapi memang saya lihat si A, si B, si C, yang tidakacceptable. Dus akhirnya, OK deh. Kalau saya formateur kabinet, saya sekaligus jadi Perdana Menteri, dan berarti harus juga menyerahkan program kabinet. Dan pada waktu itu, sentimen terhadap KMB dengan RIS-nya itu sangat besar di Yogya. Saya sendiri termasuk yang berpidato di Sitihinggil. Saya kupas itu soal KMB. Apa lagi didorong oleh Sukarni, dia waktu itu tokoh Murba. Saya pergi ke rumahnya. Ini yang penting, “saya sudah bicara dengan pak Mangunsar­koro dan sebagainya. Program kita mesti menghancurkan RIS dan mem­bentuk negara kesatuan.”

T: Kata Sukarni.

J: Ya. Bagi saya sendiri bentuk negara itu tidaklah yang prinsipiil. Buat saya yang terpenting adalah, buat apa kita mencapai kemerdekaan, buat apa membentuk negara, jika tidak menaikkan kehidupan rakyat. That is the most important thing. Kalau itu disebut federasi OK, disebut persatuan OK. Akhirnya program pertama itu, “pembentukan negara kesatuan.” Murba memberikan support, “katau mas Halim mau tarok program ini akan disokong, walaupun barangkali kami tidak ikut” [dalam kabinet]. Ya deh. Jadi yang jelas program pertama adalah membentuk negara kesa­tuan. Nah,itu saya tawarkan. Sekarang sampai ke formasi kabinet. Akhir­nya sebagai Menteri Penerangan saudara lihat itu nama Wibowo. Sebelum­nya saya tawarkan nama Adam Malik. Tapi Masyumi dengan perantaraan Natsir tidak bisa menerima. Akhirnya terjadi tawar menawar yang sulit untuk diceritakan.

T: Tawar menawar itu penting diceritakan pak.

J: Ya, saya mendapat pengalaman. Terns terang saya dapat merasakan se­kali. Saya mulai menawarkan pada Masyumi, begini, begini, begitu, begitu. Sebab saudara jangan lupakan di Indonesiaini, ya, personal relationship sangat penting artinya. Hubungan sama Natsir, sama Sjafruddin, sama orang Masyumi, hubungan sama Lukman Hakim, pak Susanto Tirtoprojo, apalagi suami isteri Mangunsarkoro. Ya mas Ton, Sartono, saya masih bisa datang ke rumah. “ini Bung Halim ini kuwalat,” selalu begitu ya. Jadi ketika saya sudah dapat [nama nama] , saya bicara sama mas Susanto Tirtoprodjo. Ya, dia kasih tahu sama saya, “Bung Halim, pergi ke situ,” artinya [ berunding] dengan partai yang masih keberatan. “Cobalah”, katanya. Pendeknya kalau saya sendiri yang datang, ya, sudah diterima. Enaknya, usul dari mereka, untuk menghilangkan hambatan yang ada dari partainya sendiri. Mereka sudah tahu sapa saya, deep in their heart. Yang penting memang dr. Sukiman, yang masih kukuh pendiriannya. Di Yogya itu, dibanding dengan Moh. Natsir, Prawoto, Mangunsarkoro, Roem dan berapa lagi itu, masih berat pak Kiman. Saya juga datang kepada beliau. Cara saya, mas Kiman, politik itu tidak usah pakai sen­timen. Terang-terangan [saja] apa keberatan mas Kiman. “Tidak ada, dia bilang, tetapi paling-paling jij jangan digrogotin.”

T: Sebetulnya apa yang menjadi alasan bagi PNI dan Masyumi untuk me­milih [dan] menaikkan Bapak itu.

J: Saya kira in potency untuk mencari agreement. Siapa dari kedua partai itu yang acceptable to lead [kabinet], praktis to head the government. Hanya itu. Dus negatif. Bukan karena dr. Halim jago, sama sekali tidak. Jadi secara kebetulan ada dua partai terbesar yang tidak sanggup men­ciptakan suatu persesuaian, agreement. Itu persoalannya.

T: Pos apa yang diminta oleh Masyumi..

J: Soalnya bukan pos, [tapi] Perdana Menterischap. Masyumi maupun PNI tidak mau melihat satu dari mereka itu jadi naik. Itu persoalannya. Sedangkan figur yang bagus mereka anggap belum waktunya untuk maju, umpamanya Natsir. Mereka itu masih dalam perjuangan di dalam, masih kurang established.

T: Ya. Troefkaart-nya belum dikeluarkan.

J: Karena Natsir sebetulnya sanggup. [Dia ] orang jujur, temyata kemudian toh. Kenapa tidak jadi [dimajukan] . Dalam Kabinet Sjahrir [ia] menjadi Menteri Penerangan. Jadi itu hanya karena salah satu dari kedua kekuat­an itu tidak ingin naik. Padahal mereka bersatu dalam Barisan Banteng rnenghadapi Sjahrir dalam Linggarjati. Saya yang menghadapi PNI dan Masyumi itu. Waktu itu saya mempunyai konklusi, masak partai politik yang terbesar mau melepaskan kedudukan itu pada orang lain, jika mereka sendiri sanggup, ya. Politic is politic. Pejabat Presiden menunjuk formateur dari PNI, ya toh. Wah gagal. Dan memang itu sudah dicoba lebih dahulu, secara informal lobbying sampai kepada saya. Dalam informal lobbying itu tidak ada peranan Sukarno-Hatta. Tidak ada sama sekali. Juga ketika saya telah membuat program, [juga] tidak. Jadi itulah sebab­nya, karena tidak ada persesuaian paham PNI-Masyumi, [dua] partai terbesar waktu itu, yang memungkinkan salah satu di antara mereka menjadi Perdana Menteri. Bukan karena kekuatan partai sosialis yang menolong saya, atau Murba juga tidak. Ya, lebih baik ambil orang lain.

Untuk mencari orang lain di luar [keduanya] itu juga sulit. Saya sudah terlalu lama makan asam garam di Badan Pekerja. Mereka tahu siapa saya.

Jadi saya waktu itu diperhitungkan.

T: Oleh mereka.

J: Ya. itu positif. Dus saya tidak kaget, mereka akan menunjuk saya. Tapi saya sendiri tidak pemah mengimpikan, dan tidak berkeinginan. Sebab dalam politik terus terang saja, saya campur baur dengan gaya tarik Syahrir. Kalau tidak, saya kira saya tidak ikut Badan Pekerja. Karena itu saya kebacut terus. Saya sudah pernah centakan kepada saudara, waktu Partai Sosialis pecah di Yogya itu. Sjahrir waktu itu di Bukittinggi. Saya yang paling aktif memecahkan [masalah] itu, di rumah ibunya Subadio, ya, Tedja Sukmana. Jadi saudara Chaniago, soal kabinet itu, program utama adalah pembentukan negara kesatuan. Untuk mencapai tujuan itu saya mendapat fonds yang tidak terbatas dari Mr. Sjafruddin yang menjadi Menteri Keuangan RIS. Artinya bukan dari RIS, tapi dari person Sjafrud­din. Hal itu bisa karena Sjafruddin dengan Lukman Hakim sangat dekat, walaupun mereka berlainan partai. Dan Lukman Hakim adalah Menteri Keuangan saya. Walaupun saya mendapatkan fonds yang tidak terbatas, saya hanya pakai Rp. 150.000,- untuk negara kesatuan. Karena praktis momen psikologis sudah menguntungkan; seperti negara Jawa Timur, Negara Pasundan, tanpa apa-apa sudah merangkul Yogya. Jadi biaya apa yang perlu dipakai, hanya untuk yang sulit-sulit seperti Negara Sumatera Timur dan Indonesia Timur. Untuk Indonesia Timur saya mengirim Ir. Putuhena, mertua dari Prof. Siwabessy, bekas Menteri Kesehatan R.I., yang bebas untuk memilih teman-teman yang diperlukan. Sedangkan untuk Sumatera Timur saya minta bantuan Bung Hatta.

T: Dalam pelaksanaan program pokok itu, yakni mencapai negara kesatuan, bagaimana strateginya.

J: Saya tahu betul B.F.O. yang pergi ke KMB itu adalah orang dari negara-­negara bagian yang dibuat van Mook. Saya tabu banyak bahwa mereka itu sebetulnya sangat memandang kepada Republik Indonesia Yogya. Kan dahulunya Sukarno–Hatta di Yogya. Dalam komposisi delegasi ke KMB, kan Hatta juga bersedia menerima 2/3 untuk BFO, 1/3 buat R.I. Yogya. Kita yakin bahwa kita mempunyai cukup pengaruh. Kalau pen­dekatan kita baik, saya katakan, mereka akan kembali ke kandang. Kalau tidak salah itu terbukti di KMB mengenai Irian Barat, BFO lebih keras. Itu [sudah] saya perhitungkan. Saya tahu bagaimana standing. Maka itu dalam mengirim orang-orang saya, umpamanya ke Pasundan, saya kirim Pejabat Presiden Mr. Assaat ke Jawa Barat, di Tegallega sekarang. Duillah, bukan main penuhnya orang-orang Pasundan disana (sambil ketawa) Menteri-menterinya sudah itu deh. Saya masih ingat, ada yang datang ke Yogya [seperti] Adil Puradirdja, Makmun SH orang Sunda. Begitu juga ke Jawa Timur juga dikirim orang. Sedangkan ke Indonesia Timur, Ir. Putuhena, orang Ambonbekas Menteri P.U. dalam Kabinet Sjahrir dulu. Saya sendiri pergi ke Sumatera Selatan dengan Lukman Hakim, dan Si­tompul. Mula-mula kami pergi ke Tanjung Karang, kemudian naik kereta api kePalembang, sudah itu terus ke Lahat, dan dengan mobil ke Bengkulu. Satu lagi, ke kota kecil, Curuk. Kita lihat bagaimana respon rakyat mereka.

Jadi tidak ada yang struggle. Yang sulit seperti yang saya katakan hanya Sumatera Timur dan Indonesia Timur. Yang lain kayak buah masak saja, jatuh [sendiri], tidak banyak urusan. Sehingga pada suatu ketika di dalam sidang kabinet saya tanyakan, bagaimana ada persoalan, kalau kita teruskan saja Negara Kesatuan R.I. Tidak ada [komentar] . Jadi kita terus memimpin. Oleh sebab kita berada di bawah RIS yang tidak simpatik di­terima rakyat, dan kita berada di bawahnya. Jadi kita beruntung, karena yang kena angin itu adalah RIS, Kita enak saja, tinggal yang simpatik­-simpatik saja.

T: Kalau orang-orang yang Bapak kirim ke Indonesia Timur itu pengalaman­nya bagaimana pak.

J: Asal tidak salah, Ida Anak Agung Gde Agung yang pernah menjadi Per­dana Menteri [negara] Indonesia Timer itu sudah banyak berkenalan de­ngan saya waktu di Pegangsaan Timur, di Gedung Proklamasi yang seka­rang. Berapa kali saya sudah berdiskusi dengan dia. Dia punya banyak pengaruh. Ir. Putuhena yang dikirim ke sana putar-putar tiga Minggu, sebelum melapor lagi ke Yogya.

T: Kalau ke Sumatera Timur siapa yang dikirim.

J: Kalau ke Sumatera Timur memang saya mati kutu. Saya minta bantuan Bung Hatta. Mereka yang terakhir masuk ke Negara Kesatuan. Jadi Bung Hatta dalam pembentukan Negara Kesatuan katakanlah dari saya sen­diri, saya berhutang budi kepada beliau. Jagoannya di Sumatera Timur adalah Mansyur, isterinya orang Belanda. Berani dia, sampai dibelenggu.

Dia ditangkap. Setelah itu isterinya dikirim ke Negeri Belanda, lupa saya namanya.

T: Apa-apa masalah yang dihadapi Kabinet Halim.

J : Ya, ada pada permulaan. Masalah perburuhan. Setiap kabinet yang baru terbentuk dengan sendirinya akan mengajukan programnya. Tidak terkecuali kabinet saya yang harus mengajukan program kerjanya kepada Badan Pekerja KNIP sebelum memulai tugasnya. Saya memang kurang menelaah program yang dibuat oleh Menteri Perburuhan saya, Dr. Maas, almarhum. Program umum dibuat oleh Perdana Menteri, sedangkan masing-masing menteri membuat perincian lagi. Saya sudah dengar bahwa Badan Pekerja tidak dapat menerima [program] Menteri Perburuhan yang akan membagi-bagikan sepeda kepada buruh­-buruh. Sudan ada desas-desus, kabinet yang baru terbentuk itu akan dita­rik kembali dengan mosi. Saya dikasi tahu di kamar saya, Hotel Merdeka, di kamar No. 16. Memang ketika saya terima tawaran PNI-Masyumi itu sudah ada Partai Parindra. Apa itu, partainya Mr. Djody Gondo­kusumo, menghantam saya habis-habisan. Dan terus terang saya katakan ekstrim anti PSI. Orang PNI menerima saya reluctantartinya tidak full hearted. Dan begitu juga orang-orang Masyumi. Jadi mereka tidak akan begitu sedih kalau saya jatuh. Saya dengar semua itu. Sehingga Djohan Sjahroezah datang, “Bung Halim,” dia bilang, “sorry, betul kita meng­approach you untuk menjadi Perdana Menteri. Sekarang kita sudah men­dapat kabar PNI akan menarik diri,” dan sebagainya…

T: Dari Kabinet.

J: Ya dari kabinet. Dan mereka pakai argumen dari Djodi. Saya bilang, saudara Djohan, saya menerima formateurschap Perdana Menteri itu in the first place, bukan karena dorongan kalian. Kita bisa terima [saran], dari siapa saja, it is up to you untuk menjalankan atau tidak. Tapi yang bertanggungjawab bukan orang yang memberi nasehat itu. Terus dia bi­lang, “apa tidak lebih baik kamu ambil kehormatan”, dalam arti kata lebih baik minta berhenti daripada diberhentikan.

T: Berhenti dengan hormat begitu.

J: Ya begitu. Saya bilang, saya tidak mau. Saya mau dijatuhkan dalam gelanggang dengan voting. Saya akan perjuangkan ini semuanya. Bagi saya tidak bisa [caranya] begitu. Saya mesti jatuh dalam arena. Arena itu ada­lah Badan Pekerja. Dus I am fighting. Saya kan tidak pernah mengingin­kan jadi Perdana Menteri. Tidak ada persoalan toh. Saya akan kasi lihat siapa saya. Sudah. Dia sangat senang. Djohan Sjahroezah itu terlalu baik. Makanya yang Maha Kuasa cepat mengambil dia. Djohan Sjahroezah mengatakan, “ya, jadi you tidak kecewa sama sekali.” Saya katakan, bo­lehlah kita lihat setelah perdebatan [ber1angsung] dan sebagainya. Saya katakan, saya mengerti betul apa yang akan dikatakan saudara-saudara itu, apalagi mengenai perburuhan. Saya akui memang saya tidak cukup waktu untuk menelaah program tersebut. Dan saya menganggap, Menteri Perburuhan telah membuat [programnya] dengan persetujuan partainya. Jadi saya tidak begitu gegabah untuk merubahnya. Namun begitu, yang akan diserang adalah saya. Het is beleid [kebijaksanaan] saga. Sekarang terserah. Cuma saya minta jangan main kucing-kucingan. Maka setelah diumurnkan siapa-siapa yang akan berpidato untuk membahas keterang­an Perdana Menteri, nampak beberapa orang dari [mereka] berasal dari partai yang tidak duduk dalam kabinet. Diumumkan pula rapat akan di mulai pukul 09.00 pagi keesokan harinya. Setelah sidang hari pertama bubar, sudah kelihatan bagi saya bahwa ada yang sudah kurang enak. (diam sejenak). Saya merasakan seakan-akan menteri-menteri saya itu terhadap saya itu telah rikuh. Padahal saya memberikan keterangan di Badan Pekerja [sebagai] Perdana Menteri atas dasar keterangan semua menteri. Cuma the general policy yang dari saya sendiri. Dengan sendiri­nya Saya yang bertanggungjawab. Seperti yang sudah saya ceritakan, saya dengan sportif dan spontan mengatakan bahwa saya sendiri yang me­nanggung konsekwensinya. Itu saya ucapkan dalam perdebatan dengan anggota-anggota yang terhormat. Saya memang tidak paksakan untuk meminta mosi kepercayaan. Saya sudah lupa, setelah sidang dimulai apa malam itu ada skorsing atau rapatnya diadakan the following day. Tapi rapatnya diadakan lagi. Ada seorang PNI yang dekat dengan saya, dr. Isa Gubernur Sumatera Selatan, sama-lama dengan AK. Gani di Palembang. Dia datang ke kamar saya, “beres Lim, tidak apa apa, PNI tidak akan menjatuhkan kabinet,” Mr. Djody juga datang sama saya, “saya tidak bermaksud apa-apa. You sportif betul dengan mengatakan Perdana Menteri yang salah bukan Menteri Perburuhan. Jadi saya tidak apa-apa. Kita akan beri kesempatan kerja pada kabinet.” Ketika rapat dibuka kembali, tidak satupun yang mengajukan mosi tidak percaya. Malahan keluar mosi memberikan kesempatan bekerja kepada Kabinet Halim. Saya bicarakan dengan kabinet. Kabinet bisa menerima. Di situlah baru saya merasa, wah ini Insya Allah menteri-menteri saya ini bisa saya pe­gang. Sebab [sebelumnya] mereka sudah hampir-hampir lepas tangan. Saya kira saya mulai mendapat respect. Itu cuma kesulitan sementara. Sesudah itu saya tidak mengalami kesulitan lagi, malahan bertambah lama bertambah kuat. Itulah persoalan saya dulu di Yogya. Memang ada bebe­rapa anekdot yang agak sensitif, umpamanya tidak bolehkah Presiden mengadakan political statement without the knowledge of the cabinet sebelumnya.

T: Apa itu contohnya.

J: Pejabat Presiden Mr. Assaat pada suatu hari tanpa berembuk lebih dahulu
[dengan kabinet], mengadakan statement tentang bagaimana mencapai negara kesatuan. Karena statement itu adalah statement politik, maka saya terpaksa bawa masalah itu ke sidang kabinet. Saya stress di dalam sistem parlementer, Presiden hanyalah simbol. Jadi tidak boleh mengada­kan pernyataan politik, kalau belum disetujui oleh kabinet terlebih da­hulu. Saya diteslah. Saya sangat sedih, den juga sulit. Sebab Mr. Assaat yang jadi Pejabat adalah paman saya sendiri, younger brother of my father.

T : Itu paman dekat pak.

J : Kalau saya tidak salah, [beliau] satu ibu dengan bapak saya, ibunya sama dengan ibu dari bapak saya, begitulah. Buat saya itu sangat berat, tapi akhirnya beliau menerima. Sebab yang mempertanggungjawabkan ke Parlemen adalah saya bukan dia. Beliau tidak akan dipanggil Badan Pe­kerja tapi saya. Itu dia lupa. Dan saya tahu dia tidak sengaja.

T : Waktu itu apakah Mr. Assaat masih merangkap ketua Badan Pekerja.

J : Tidak. Setelah disumpah menjadi Acting Presiden, Prawoto dipilih menjadi
Ketua Badan Pekerja (berhenti sejenak).

T: Ya. Apa masih ada kenangan lain.

J: Banyak yang bisa saya katakan, umpamanya pada tanggal 1 Mei saya di­minta berpidato oleh buruh. Saya sudah slap ke Gedung Merdeka. Ketka saya datang semua berdiri. Saya rasa saya punya poster sendiri. Kemudian saya ejek, saya kira saya dapat kehormatan yang tidak benar. Saudara-­saudara boleh berdiri, jika Presiden atau Pejabat Presiden [yang datang], bukan untuk seorang Perdana Menteri. Oooo ger, semuanya. Jadi saya koreksi. (diam sejenak). Sekali, saya dengan tujuh menteri kabinet pergi ke Semarang. [Waktu] itu masih banyak pemeriksaan di jalan. Sayapun ditahan, diperiksa oleh tentara.

T : Apakah mereka tidak tahu yang berada di mobil adalah Perdana Menteri.

J: Tidak. Malah ngamuk-ngamuk di belakang. Saya diam saja. Saya dipanggil.

Masuk [ruangan penjagaan]. Saya memperkenalkan saya. Mereka takut setengah mati. Saya tidak pakai mobil dinas. Terus marah-marah. “Kenapa tidak ada pengawal.” Saya bilang, mesti memang mesti, tapi negeri telah aman, buat apa pengawal. ”Wah, kita tidak tahu pak, saya ini diperintahkan semua mesti diperiksa,” [kata mereka]. Akhirnya kami berangkat. Dua belas orang berdiri (sambil memberi contoh format sen­jata pada pejabat tinggi negara), Saya Iihat saja semua (sambil tertawa). Satu lagi. Saya mesti mengadakan pidato di R.RI pada hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 1954. Saya setir [mobil] sendiri. Mobilnya adalah mobil pribadi saya, yaitu Plymouth 1945, Sedangkan mobil dinas saya adalah merk Buick dengan nomor polisi AB-2. Polisinya semua sudah ke depan gedung begitu, untuk menunggu saya. Ketika mau masuk [pekarangan] saya lihat banyak serdadu gitu ya, saya masuk RRI dari belakang, Kalau Perdana Menteri pidato kan mesti pakai [lagu] Indonesia Raya. Ketika lagu Indonesia Raya selesai, polisi naik dari depan [gedung] , Tanya, “apa Perdana Menteri sudah di dalam.” Wah ramai, Keki deh mereka semuanya. Maksud saya, saya ingin mengurangi apa itu, oh formalitas.

T: Protokoler

J: Protokoler. Sebelum menyudahi anekdot saya ingin cerita lagi bahwa saya mesti jemput Menteri Pertahanan RIS Sri Sultan Hamengku Buwono IX di Maguwo. Saya tidak pakai mobil AB-2. Saya menyetir sendiri. Di Gondolayu saya ditahan. Mesti minta izin dulu di CPM. Minta izin mau ke Maguwo. [Mereka tanya], “siapa nama.” Tulis toh. “Pekerjaan”. Perdana Menteri Republik Indonesia, (sambil mencontohkan hormat militer) terdengar teriakan, “hormaaat”. Saya pergi. Dia senang, tidak apa-apa. Perdana Menteri tidak boleh ditahan. Jadi banyak pulalah yang lucu-lucu buat saya. (diam lagi). Satu kali saya jalan jalan sendiri di Malioboro. Saya tidak mau pakai pengawal-pengawal segala. Saya selalu pakai sepatu sandal [kebetulan] rusak. Sepanjang jalan ada beberapa tukang sepatu. Bung tolong perbaiki ini kata saya kepada seorang tukang sepatu. Setelah selesai saya tanya, berapa. Dia mau bilang, tapi melirik dulu pada saya. Tukang sepatu bilang, “bapak, Perdana Menteri,” Saya bilang, sekarang dr.. Halim. Nah ini uangnya. “Tidak,” katanya,, “tidak usah bayar.” Satu lagi yang agak lucu, untuk menunjukkan bagaimana kadang-kadang Bung Karno itu, Nehru mau datang ke Yogya. Saya Perdana Menteri. [Perdana Menteri] India itu mau speak di Badan Pekerja. Sebelum Nehru datang dengan Bung Kamo, Ki Hadjar Dewantoro dapat kawat dan Sekneg, dari Mr. Gafar Pringgodigdo, minta supaya rakyat di perjalanan antara Maguwo dan Gedung Negara, supaya rakyat minta kepada Bung Karno pidato. Hendaknya didaulat. Ki Hadjar Dewantoro kasih lihat kawat itu pada saya. Wah ini bagaimana, Ki Hadjar. “Terserah dik Halim,” [katanya]. Saya bilang tidak bisa. “Dan memang tidak bisa,” katanya. Dia mau melihatkan pada Nehru bahwa dia sangat populer. Padahal caranya tidak benar. Tolak itu, kita tidak mau. Saya kasih saudara satu fakta, itulah Bung Karno yang suka show. Demikianlah.

https://aswilblog.wordpress.com/2008/12/10/kenang-kenangan-dr-abdul-halim-bab-ix/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s