Kenang-kenangan dr. Abdul Halim: Bab VII

Map of Luhak Agam but Tanjuang Mutiara is not part of Luhak Agam. This map originally take from Agam Regency Map

VII. BERKENALAN DENGAN SRI SULTAN HAMENGKU BUWONO IX.

T: Bapak menyebutkan banyak tokoh dalam wawancara-wawancara

terdahulu, Dua yang sangat menonjol adalah Sutan Sjahrir dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

J: Dimana itu.

T: Dalam cerita-cerita Bapak sebelumnya.

J: Ooooo Ya.

T: Bapak menyebutkan, bertemu buat pertama kali dengan Sutan Sjahrir pada jaman Jepang, tetapi Bapak barangkali terlupa menyebutkan, kapan sebetulnya Bapak pertama kali berkenalan dengan Sri Sultan Hemengku Buwono IX.

J: [dengan] Hamengku Buwono [sebelumnya] saya sudah sering dengar dengar tentang beliau. Pertemuan saya pertama kali yang membawa rasa yang mendalam bagi saya (bangkit dari duduk sambil mengambil foto Sri Sultan Hamengku Buwono IX dengan pengkisah di kamar kerja) adalah sebelum Aksi Militer [Belanda] I.

T: Jadi sebelum itu belum kenal secara pisik.

J: Ya. Sebelum Aksi Militer I itu, kita kan bolak-balik Yogya-ke sini (Jakarta). Pada suatu ketika di wagon, bukan KLB, bukan Kereta Api Luar Biasa, kita juga sering pakai KLB’ tetapi kereta api biasa yang ada wagon luar biasanya. Itu adalah tempat [duduk] para menteri, kita, dan sebagainya. Sebab perkeretaapian up till that time masih kita kuasai. Yang menjalankan [kereta] kita semua. Cuma ya, di Bekasi apa itu sudah stop, tidak langsung masuk kota Jakarta. Pada suatu ketika, kita (pengkisah dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX) duduk dalam satu wagon yang sama, tapi tidak berdekatan. Saya tahu itu Hamengku Buwono, dia bersama adik nya dan sebagainya (ada suara klakson di halaman). Adiknya yang satu yang kenal dekat dengan saya siapa namanya ya, adiknya se-bapak, Pangeran Bintoro, pernah Duta Besar di Bangkok. Nah, pendeknya kereta api berhenti di Cikampek menunggu green light untuk masuk Jakarta. Waktu itu kira-kira pukul 3 atau pukul 4 sore. Kan panas itu.

T: Jadi Bapak dari Yogya mau ke Jakarta ini ya.

J: Semua dari Yogya. Nah. saya meloncat dari kereta api itu, dari wagon. Beliau waktu itu masih panggil saya “dok”.”Waar gaat U heen, Doc”, kata beliau. Niks voor U, saya bilang. “Ik ga mee” katanya sambil loncat dari kereta. Saya bilang, nothing for you, itu bentuk yang polite form dalam bahasa Belanda. “Mau ke mana”, katanya. Saya haus, mau minum ke restoran itu. “Saya ikut”, [katanya] dia loncat. Aaaa, Pangeran yang satu itu juga ikut, Pangeran Bintoro. OK, saya jalan. Karena ini Sultan Yogya, tentu gua mau cari restoran yang agak lumayan sedikit untuk minum. Ada tukang es puter. Tahu anda yang disebut es puter itu, yang begitu-tu (sambil mencontohkan membuat es campur) yang buat anak anak itu, yang besamya kira-kira segini deh (sambil mencontohkan dengan tangan). Dia bilang kepada saya,kan kita hausnya setengah mati, “Waa rom zo ver?, kenapa begitu jauh, di sini saja deh”. Gila ini orang saya pikir, es putar yang berkacung-kacung itu kok mau. Ini saya tidak berlebihan. OK. Kita nongkrong di situ, minum es puter. Itulah the first meeting saya dengan Hamengku Buwono. Sudah itu, ketika kami sudah di Purworejo, Badan Pekerja di Purworejo, saya sering mampir kepada Sri Sultan. Dengan Sri Sultan se mobil keCirebon dan sebagainya. Jadi saya bertambah lama tambah dekat. Setelah Badan Pekerja di Purworejo [pindah] ke Yogya, kita bertambah lama bertambah dekat. Yang paling dekat adalah ketika Yogya diduduki [oleh Belanda] setelah Aksi Militer [Belanda] II. Itulah yang saya [setiap] Senin—Kamis ke Kraton.

T: Apa saja yang dibicarakan.

J: Kita selalu exchange of views. Dia lebih banyak dapat [berita] dari kurir, dan saya juga banyak kurir, dari Sindoro-Sumbing, dan Kulonprogo, itulah dari Simatupang Cs dan sebagainya. Dia juga. Dan sekalian melihat keamanan, keadaan di dalam kota.

T: Biasanya kalau Bapak mengadakan pertemuan dengan Sri Sultan itu di ruangan mana pak.

J: Anda sudah pernah melihat foto ini (sambil melihatkan foto yang sebelumnya diambil dan kamar kerja).

T: Belum. Ini foto di mana ini.

J: Di Kraton.

T: Kok tidak ada tahunnya pak.

J: Ini setelah Aksi ke II deh.

T: Ooo yang tadi Bapak ketemu di Cikampek sebelum Aksi I.

J: Sebelum. Kita belum Linggarjati (ada suara mobil di halaman).

T: Jadi sebelum Bapak menjadi Komisaris Pemerintah untukJakarta.

J: Belum.

T: Tapi Badan Pekeija KNIP kan sudah di Purworejo.

J: Sudah dong, itulah saya sering ikut kembali-kembali keJakarta. Saya mau lihat rurnah saya di sini, di Jalan Muria.

T: Jadi dari Yogya itu Bapak tidak sama-sama naiknya di Yogya.

J: Hanya bersama satu gerbong saja, seperti beliau di sana saya di sini. Saling tidak tahu kan. Dan saya juga tahu ada dia. Tapi saya menjauhi dia. Setelah kita berkenalan itu, kan Sjahrir masih Perdana Menteri, itu sering kalau Sri Sultan datang dan Yogya, beliau membawa rokok Negresco. Rokok itu dibikin di Yogya, cerutu kaleng, Republik punya, wah bagus, sudah ada sejak during the Japanese period. Aaa kan saya pernah cerita pada anda tentang Prof Asikin yang tidak mau memimpin tapi menyerahkan rumah sakit pada saya. Beliau tahu bahwa saya suka cerutu, nah dia kasih lima puluh, apa itu, Negresco, itu pakai, kayaknya seperti tin di luarnya, doosnya itu. Nah kalau seperti yang ditanyakan tadi gua masuk kraton sebelah mana, gua tidak tahu. Sri Sultan yang tahu.

T: Apa kalau ada pertemuan ruangannya berpindah-pindah.

J: Tidak. Selalu ruangan itu, sebab selalu mesti ada teh. Yang membawa teh itu kira-kira lima orang barangkali, itu pakai kemben sini dengan pakaian bagian atas telanjang (seperti pakaian abdi dalem Kraton Yogyakarta), itu kakinya bunyi siitt, siitt, (mencontohkan jalan jongkok abdi dalem) mesti jongkok, cewek.

T: Kaiau Bapak masuk istana bagaimana.

J: Saya kan selalu main koboi tidak keruan, tidak tahu aturan. Kacau kalau di situ. Tapi orang istana sudah tahu. Karena sayaclose, kawan dari Sri Sultan, pangeran-pangeran yang lain itu biasa saja sama saya. Sebab anda mesti ingat, ketika Aksi Militer I itu telah berjalan, Subadio dan saya memerlukan untuk membuat surat keterangan dari Sri Sultan, bahwa Subadio dan saya adalah kawan karibnya dan bisa bergerak di seluruh kampung-kampung di daerah Yogyakarta. Jadi semacam paspor-lah.

T: Apa yang menyebabkan Bapak bisa dekat dengan Sri Sultan.

J: Terutama yang sangat dalam terutama itu bagi saya, pertemuan di Cikampek itu memberikan impresi yang sangat dalam. Selain itu beliau ikut dalam perjuangan. Saya waktu itu belum tahu tentang Sunan Solo, di mana mereka berdiri, Republik-kah atau tunggu waktu (diam sejenak). Kedua, saya cuma manusia biasa, yang bisa impresi ketika minum es itu, dia loncat dari kereta. Buat saya itu besar artinya, karena beliau adalah Sri Sultan. Saya kira beliau lupa Sultan-nya waktu itu. Banyak saya lihat sebalik nya, banyak orang yang mau jadi raja, padahal dia hanya semacam orang biasa. Tetapi Sultan ini malah sebaliknya. Dan dia punya sincerity, ditambah juga dalam soal olahraga kita juga sama. Sebab dia seorang kiper dari Harlem di Negeri Belanda dulu. Dia juga seorang pemain bola, seperti saya juga pemain bola. Jadi kita banyak item-item yang sering ketemu.

T: Di mana Bapak pernah main bola dengan Sri Sultan.

J: Cuma sekali, yaitu di Sriwedani, setelah tahun 1950-an, ketika PSSI jago jago kapok lawan pers atau apa waktu itu. Beliau kiper (tertawa bersama). Tapi itu setelah kemerdekaan. Saya masih ingat, dia loncat bukan main hebatnya, tapi bolanya sudah duluan masuk. Saya ketawa ketika itu.
Loncatannya seperti loncatan ikan sluip bahasa Belanda-nya, (tertawa bersama) tetapi bola sudah lewat. Waktu baru-baru ini saya bersama beliau ikut rombongan Uber Cup Indonesia di Nagoya, saya ceritakan lelucon di Sriwedari itu pada beliau. Ketawa saja dia (tertawà bersama).

T: Jadi Bapak menjadi lebih rapat dengan Sri Sultan setelah agresi II, setelah Yogya diduduki, yakni ketika Bapak mempunyai jadwal Senin—Kamis bertemu di Kraton. Bagaimana asal mulanya timbul jadwal itu.

J: Sebelumnya kita saling mengirim kurir.

T: Siapa saja kurir Bapak.

J: Para perawat di rumah sakit. Semua perawat wanita kita kerahkan. Dan kebetulan banyak pula perawat-perawat yang juga bekerja di Kraton. Jadi lewat mereka mula-mula kita punyacommunication.

T: Jadi Bapak menjadi rapat itu justru karena adanya semacam gerakan bawah tanah.

J: Ya. Gerakan bawah tanah lawan Belanda. Itulah seperti yang saya pernah ceritakan pada saudara, bahwa saya banyak belajar dari Sjahrir, dan dari Mayor KNIL Santoso itu. Karena itu tidak dapat dielakkan saya dua tiga kali diangkat oleh truknya anak buah Kolonel Van Langen. Karena ada juga saya ngelamun naik sepeda mau ke Kraton, lupa bahwa kenapa jalan begitu sepi. Biasanya kalau jalan sepi, padahal biasanya ramai, anda sudah mesti tahu, berarti di situ ada pembersihan. Jadi mestinya saya bersepeda kembali lagi, can jalan lain. Tapi saya pura-pura tidak tahu, nah tiba-tiba di belokan lihat ada truk ya sudah, ditangkap. Jadi kembali kepada pertanyaan tadi, jadwal Senin—Kamis, asal mulanya dari Communication ini. Pertanyaan saudara ini sangat bagus, berarti saya mesti repeat lagi kenapa saya mesti kraton itu, itu saya mesti pikir-pikir dulu (terdiam lama sambil berpikir). Tapi saya bisa tegaskan bahwa hal itu terjadi sebelum serangan 1 Maret, Serangan Umum itu, kami sudah [bertemu] reguler itu di Kraton Senin—Kamis. Itu I know for sure,satu titik pegangan buat saya di dalam my memory. Sebab sesudah serangan 1 Maret itu, mungkin sekitar 2 atau 3 Maret tank-tank masuk ke Kraton, guna mencari Suharto, Presiden kita sekarang ini. Sri Sultan hanya mengizinkan beberapa tempat saja yang boleh diperiksa dan beliau sendiri yang mengantar dan mengawasi. Tapi setelah itu ia dilarang menerima tamu siapa saja. Berita itu saya dapat per kurir, suratnya. Dan saya tidak dapat lagi ke kraton. Tidak lama sudah itu datang lagi kunir, “ah datang aja deh kembali seperti sebelum ada instruksi”. Dan saya datang kembali. Nah anda sekarang tanya sama saya kapan pertemuan-pertemuan itu dimulai (berpikir) itulah.

T: Tentu ada hal-hal yang prinsipil sehingga menimbulkan keinginan untuk membuat jadwal yang tetap.

J: (Terdiam lama) saya kira memang (berpikir lagi). Setelah Yogya diduduki Belanda tanggal 19 Desember itu, [dan] menteri-menteri banyak yang ditangkapi yang kemudian dibawa ke Bangka, dan sebagian lagi banyak yang masuk ke pedalaman, yang tinggal dalam kota hanya satu yakni Sri Sultan. Karena dalam kota pendudukan [Belanda] itu tidak ada lagi pentolan-pentolan Republik, maka itu saya diminta datang untuk bertukar pikiran.

T: Jadi karena tidak ada lagi tokoh-tokoh, Bapak diminta datang untuk bertukar pikiran.

J: Ya, kira-kira begitu. Sebab sekali saya datang, terus saja kita ngobrol, begini-begini, sehabis itu terus kita lakukan berkali-kali. “Begini saja deh, kita ambil sebagai patokan Senin—Kamis you datang ke Kraton”, [kata Sri Sultan]. Akhirnya saya menjadi . . . [dekat]. Bahkan kemudian setelah saya jadi menteri dan sebagainya itu, kalau saya ke Yogya, saya selalu tidur di Kepatihan. Disediakan buat saya suatu tempat, ya katakanlah masih masuk authority dari Kraton.

T: Apakah ditentukan acaranya, umpamanya hari Senin itu membicarakan ini, hari Kamis membicarakan itu.

J: Tidak. Kebetulan saya rajin mendengarkan BBC, dan sering jalan-jalan naik sepeda. Sedangkan beliau hanipir tidak ada jalan-jalan, tidak kemana mana. Saya, memang markas saya di rumah sakit [Bethesda], tapi saya tidak tetap, tetap di tempat, I am not staying in hospital the whole day. Sedangkan dokter-dokter lain betul-betul sebagai dokter pekerja di situ. Saya memang dokter, tapi saya mubeng-mubeng, muter-muter, ke sini ke situ, saya tangkap berita di sini tangkap berita di situ. Adakalanya saya dapat berita melalui bakul-bakul dari Sungkono. “Saya juga”, [kata Sri Sultan]. Jadi begitulah kita saling mengecek. Jadi hanya semacam pertukaran informasi.

T: Tidak ada realisasi.

J: Hubungan kita praktis terputus dengan para menteri kita. Berita-berita dalam negeri kita dapatkan dengan secara begitu. Sedangkan berita-berita luar negeri kita peroleh dan radio-radio luar negeri. Kemudian saya ana lisa, dan kita manfaatkan untuk perjuangan kita. Saya cukup terlatih dengan kerja begini. Banyak orang memperoleh berita-berita penting, tapi dia tidak tahu how to use.

T: Apa kesimpulan Bapak mengenai Sri Sultan.

J: Kalau di luar Kraton beliau itu persis kayak kita. Tapi dalam Kraton lain. Saya sudah pernah cenita bagaimana abdi dalem datang menghampiri kita yang sedang duduk di meja. Seet seeett seet, bunyi kaki berjongkok mendatangi Sri Sultan. Dan kemudian dengan sikap yang sama mundur, karena tidak boleh membelakangi Sultan. Sebetulnya beliau banyak menderita kerugian-kerugian karena perjuangan. Dan semua itu hanya untuk Republik. Dan ketika saya Perdana Menteri, saya mencoba untuk memberikan hormat Pemerintah kepada beliau.

T: Apa yang masih Bapak ingat dalam diskusi-diskusi ini, mungkin ada beberapa hal yang sangat berkesan, terutama dalam waktu bertemu untuk saling bertukar informasi dan berdiskusi mengenai keadaan-keadaan waktu itu.

J : (Diam sejenak) yang sangat terkesan bagi saya adalah bahwa beliau tidak pernah oleng digertak oleh Belanda yang ingin memasukkan tank nya ke Kraton. Kedua, beliau tidak sedikitpun berinsut dari pendirian ketika ditawarkan [jabatan]. Belanda bilang, “apa itu, Republik tidak ada lagi toh”. Tapi beliau tidak [tanggapi]. Ketika kemudian beliau diintruksikan untuk tidak diperkenankan lagi menerima tamu, beliau tidak taati. Belanda sebetulnya bisa saja menangkap Sri Sultan, tidak ada power yang bisa menahan. Cuma Belanda takut rakyatnya, dan dengan demikian Republik akan bertambah kuat, begitu.

T : Dalam diskusi-diskusi itu tentu sering terjadi perbedaan pendapat. Apa saja yang Bapak masih ingat.

J: Saya tidak ingat lagi.

T: Jadi sejak tahun 1947 itu ya sampai sekarang Bapak masih dekat dengan Sri Sultan.

J : Ya persis. Saya dulu paling gampang ke rumah Sri Sultan. Masuk kamar begitu saja, duduk di tempat tidur beliau, kan baik itu (sambil ketawa). Dus saya sudah begitu rapatnya. Begitu juga pada kesempatan-kesempatan lain bersama beliau, seperti ketika bersama di Boston, di Tokyo dan sebagainya. ‘Punya cukup dollar tidak”, katanya. Saya diam saja. “Bilang aja”, katanya. OK deh, nanti saya teriak kalau saya perlu (sambil ketawa geli).

T: Ya begitulah. Nanti kita sambung lagi deh.

J: 0K.

https://aswilblog.wordpress.com/2008/12/09/kenang-kenangan-dr-abdul-halim-bab-vii-2/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s