Kenang-kenangan dr. Halim: Bab V.

  1. MENCARI DEVISA

T: Begini pak Halim, saya ingin tahu bagaimana pengalaman-pengalaman Bapak pada akhir tahun 1946 atau 1947. Ya, katakanlah sekitar saat Linggarjati dibicarakan dan kemudian diparaf, dan sampai kepada agresi I bulan Juli 1947.
J: Saya pergi ke Singapore bersama-sama dengan Sutan Sjahrir, tanpa banyak bicara bawa bubuk opium, untuk dijual guna mendapatkan fonds devisa.
T: Pada siapa . . .
J: Itu saya tidak tanyakan.

T: Yang menjual siapa

J: Yang menjual adalah Dr. Suroso, we are dengan Sjahrir.

T: Tapi Sjahrir waktu itu ke Singapura sebagai apa.

J: Sjahrir waktu itu (sambil mengetok meja dengan pinsil) dia telah menjadi Penasehat Presiden. [Dia] sudah jatuh, sudah aksi ]Belanda] I lah. [Wak­tu] Kabinet baru terbentuk dia diangkat menjadi Penasehat Presiden. Malam itu juga beliau terbang ke luar negeri, dan pada tanggal 14 Agustus berbicara atas nama Republik di [PBB] Lake Success mengenai agresi I itu. Yang ingin saya jelaskan bahwa di tahun 1947, di mana saya mem­punyai role penting, yaitu sekali [naik] kapal terbang dengan Critchley, ke Bukittinggi . . .

T: Critchley itu siapa pak.

J: Anggota [Komisi Tiga Negara] PBB wakil dari Australia. Saya masih ada otonya. Ini saya katakan pada saudara suatu fact, di mana Republik sangat memerlukan devisen.

T: Kira-kira bulan apa.

J: Na, inilah dia yang [mau] saya tanyakan, orangnya masih hidup. Paling
kurang Sudjatmoko, Ali Algadrie dan Mr. Critchley [pada saat wawancara] Duta BesarAustralia
di sini. Faktanya begini. Saya datang dengan kereta api dari Yogya. Dengan sepeda saya pergi ke Kemayoran. Di situ saya lihat [ada] orang dari Australia yang mewakili United Nations (PBB). Ketika saya berada di Kemayoran itu, saya [bertemu] Sudjatmoko. Sudjatmoko tinggal di Jalan Tanjung. [saya] tanya, Ko mau kemana . “Mau pergi ke Bukittinggi, menjemput Bung Sjahrir”, [katanya] Pada waktu itu Bung Sjahrir ada di Bukittinggi dengan Utoyo Ramelan, Dubes kita di Singapura masa perjuangan. Critchley datang, diperkenalkan kepada saya buat pertama kali. Dia tanya, “Are you coming along dr Halim“. Saya bilang kemana. “Ya, ke Bukittinggi”, katanya. OK deh, saya OK saja. Naa, sampai di Bukittinggi. Mendaratnya itu bukan di Padang, tapi di Tanah lapang, Gadut namanya. [Ketika] berangkat kembali ternyata Sutan Sjahrir ikut, Utoyo Ramelan, Ali Algadrie, Sudjatmoko, dan saya, berlima…

T: Kembali ke Jakarta.

J: Saya sangka akan kembali ke Jakarta. Sebab saya tidak included di dalam planning. Apa yang akan terjadi, itu saya tidak tahu. Saya sangka mempunyai active role, tapi sebetulnya saya cuma pion saja.

T: Yang nyuruh ke Sumatera siapa pak.

J: Tidak tahu, mesti mengambil Bung Sjahrir di Bukittinggi. Tentu sudah mempunyaiplanning. Ini sudah pasti, toh [ada] kapal terbang, mau berangkat menjemput Bung Sjahrir. Ditawarkan kepada saya untuk ikut. Orang tua saya berada di Bukittinggi, jadi ingin melihat. Tapi setelah kembali ternyata [ikut] kita: Ali Algadrie [jadi] ipar dari Subadio, kawin dengan adiknya Subadio, Utoyo Ramelan, Critchley, Sjahrir dan saya. Itu kapal terbang C.47 Dakota dengan bendera Australia. Ketika berada di atas Jambi, rupanya kapten pilot mendapat call dari Palembang. Palembang telah diduduki oleh Belanda. “Kapal terbang itu hams mendarat di Palembang dahulu”, perintah dari Belanda. Dan karena Critchley ini menurut pikiran saya masih terlalu muda, belum begitu tahu dia, how far dia punya diplomatic immunity. Itu sangkaan saya. Critchley dan Utoyo Ramelan duduk di depan bertiga dengan Sjahrir, kami di belakang. Ya, OK deh, kami akan mendarat di Talang Betutu. Sebelum mendarat, beberapa waktu sebelum call itu datang, saya dipanggil oleh Bung Sjahrir. Dia bilang, “Bung Halim begini, di dalam kapal ini ada candu, sama bubuk kina, dalam Quantity cukup banyak untuk mencari devisa. Tapi, jika nanti Belanda membeslah ini, itu Bung Halim-lah yang bertanggungjawab. Sebab satu-satunya dokter disini adalah Bung Halim”. Ya, apalah yang bisa saya katakan. Terpaksa untuk [ pengamanan] . Di situlah saya baru [tahu] , ini Sutan Sjahrir kadang-kadang “setan Sjahrir”; itu orang mengerti apa yang saya hams katakan. Kenapa dia tidak cerita sejak semula sama gua, kan gue tidak mau ikut, ya toh. Mau bilang apa. Siapa yang membawa candu buat keperluan kedokteran puluhan kilo. Yang diperlukan cuma miligram (sambil tertawa). Saya tahu tidak akan dilepas di Palembang. Ketika kami turun di Talang Betutu, segera naik ke [pesawat] polisi militer Belanda. Yang naik ke kapal kapten. Buat saya mengherankan dan betul-betul respek saya terhadap mereka. Nah, [dia] bahasa Inggris, ”Who is dr. Halim”..

T: Kok bisa langsung bertanya begitu.

J: Saya sudah bilang, kok begitu hebat intelnya di Kemayoran. Jakarta kan sudah [diduduki] Sekutu, Belanda, ya toh. Mereka tahu bahwa saya ada di kapal terbang. Ya saudara bisa berpikir. Jawab saya, It’s me, something wrong?. “No. If you are heading for Batavia than I have a seat for you in the KNILM“.

T: Maskapai penerbangan Belanda.

J: Belanda. Saya bilang, I have not yet made up my mind, sebab belum menentukan. Kami turun. Tidak ada yang punya uang merah. Di situ [berlaku] uang Nica. Terus kami ditraktir di restoran, sama Belanda, sama polisi itu dan semua penguasa Belanda. Ngomong Belanda deh.

T: Candunya bagaimana…

J: Candunya di kapal terbang. Saya takut, akan digeledah apa .tidak. Saya bisikkan sama Critchley, please hurry, cepat-cepatlah. Datang lagi kapten, “dr. Halim have you made up your mind“. Yes, I am not going to Batavia, I am going to Singapore . “Oh, it’s all right with me“. Dia turun. Pintu [pesawat] bukanya kan begini… (sambil memberi contoh cara mendorong pintu pesawat). Saya bilang kepada Algadrie, tutup pintu itu lekas. Saya bilang sama Critchley, please hurry. Terus berangkat. Jadi tidak diperiksa. Mendarat di Singapore Royal Air Force airport. Tapi juga pakai duane. Semuanya memakai paspor,kecuali saya. Kalau Sudjatmoko dapat dari PBB. Ya Sjahrir, semua mereka rnempunyai paspor…

T: Bapak [ sendiri ] bagaimana.

J: Tidak ada. Jadi mereka keluar dulu semua. Saya terakhir. Datang orang Malaya, mendekat saya orang Malaya. Kalau melihat sama kita selangit waktu itu. Saya dihampiri, ” encik”, bukan bapak, encik bagaimana ini”. Saya mau keluar tapi tidak punya paspor, [kata saya] . “Ya nanti deh ikut saya keluar’; [katanya] . Duduk sajalah di restoran Royal Air Force. Mau minum tidak punya duit.

T: Orang-orang tadi sudah pada kemana.

J: Sudah kabur, dan candu beserta powder kina telah selamat pula. Coba bayangkan, supaya saudara mengerti. Pada waktu itulah saya ketemu Juhir Muhammad, [kemudian] tokoh PSI juga. Dia sudah lama di situ sebagai imigran. Dia bilang, “nanti bisa saja keluar”. [Ketika] saya lagi pikir, datanglah mini bus dengan tujuh wartawan, satu diantaranya wanita. Rupanya mereka ketemu dengan Sjahrir dipintu masuk ketika Sjahrir akan naik mobil. Sjahrir bilang, “No. There is a certain gentleman, dr. Halim, who knows completely about the situation in the interior of Indonesia.”
Jadi Sjahrir mengelak dari wartawan itu dan melemparkannya kepada saya. Kemudian wartawan itu datang pada saya. Saya tidak sadar mereka datang. “Good afternoon sir. Are you dr. Halim” [kata mereka]. Lho kok ini bagaimana ini. “We got information from Mr. Sutan Sjahrir that you are here, and that you can give information we need from the interior of Indonesia“. Kurang ajar Sjahrir ini. Untuk kedua kalinya saya dikerjain. Saya bilang, yes, I got a very nice Ex Prime Minister . Saya layani. Lho I am stowaway, orang naik kapal terbang tanpa bayar. Apapun yang saudara inginkan [boleh] , asal jangan disebut nama saya. Kenapa. Akan mengundang polisi datang sama saya. Jelas dong. dr. Halim datang, masuk
kota, mana paspor. Polisi itu kan sangatrigid. Jadi OK. Agreed, fire your questions , saya bilang. Selesai, sudah lega. Mereka sudah puas. Saya buka topi saya (mencontohkan menengadahkan topi seperti orang minta-minta) please sir [kata saya]. Mereka kaget. Saya bilang, saya tidak punya kepeng Singapore. Saya minta prikemanusiaan saudara-saudara [untuk] memberikan sedikit uang. Baru dua orang, maka dalam topi saya telah terkumpul lima ringgit. Sebelumnya Juhir Muhammad telah mengasi saya lima ringgit pula. Itu sudah banyak.It’s enough, thank you. Ketawa wartawan itu semua. Sambil bergurau [mereka] kabur. Kemudian datang orang Melayu, “eh encik”, [katanyal , kemudian dia bawa saya ke belakang duane. Jalan dulu sebentar kemudian naik taxi. Saudara tentu telah dengar itu Paya Lebar, Kelang. Kelang itu dekat pantai, dalam kota betul-betul. Dan Airport itu dilintasi oleh jalan besar. Saya keluar dari taxi, bayar, dan masuk Oriental Hotel. Di situ saya ditanya, “mana paspor”. Biasa toh kalau kita masuk hotel. Kan kita minta kamar. Saya bilang tidak ada. Belum, besok lusa “Ya, nanti kami dapat kesulitan sama polisi” [kata mereka] . Don’t worry, [kata saya] . Malam-malam datang telepon akan diambil dengan oto, ikut makan di rumahnya Utoyo Ramelan di Goodman road. Ketika makan mereka bertanya pada saya, Utoyo Ramelan barangkali yang bertanya. Yang jelas bukan “Setan Sjahrir”. Dia pura-pura tidak tahu saja. Dia tanya, “bagaimana kamu bisa lobos dari airport”. Saya bilang, si kecil betul-betul kurang ajar, gue sudah ditinggalin, disuruh interview lagi. Saya minta ganti rugi sama Utoyo Ramelan. Ganti kerugian dari penjualan candu dan kina itu. Kan itu yang kita bawa dan Bukittinggi. Utoyo kemudian menyuruh saya kepada Dr. Suroso, waktu itu sebagai atase perdagangan kita di Singapura. Karena kebetulan Dr. Suroso waktu itu juga datang, saya diberi 200 ringgit Melayu, sebagai uang kaget dalam penyelundupan opium dan kina itu.
Saya memang perlu uang itu, karena rumah saya di Jalan Muria 19 ditagih oleh yang empunya rumah JK Panggabean, yang hams saya bayar dengan uang merah Nica. Sebelumnya saya mau bayar dengan ORI. Dia bilang, “sama dr. Halim tidak usah bayar:’ Tapi ketika keadaan Republik bertambah jelek, dan ORI praktis tidak beredar lagi di
Jakarta, dan saya sudah di Yogya, dia minta pembayaran dengan uang merah. Perbandingan dolar Melayu dengan uang merah Nica waktu itu cukup baik buat dolar Melayu. Nah kami cuma dua hari di Singapura, kemudian kembali ke Jakarta. Dr. Suroso, suaminya dr. Sulianti sekarang Dirjen di Departemen Kesehatan, dia punya oto, diberikannya pada saya dengan sopir untuk membawa saya ke Kelang. Dari jauh telah saya lihat ada kapal terbang PBB itu. Seperti saya katakan pada saudara, kan ada jalan besar lewat sana, ada lampu lalulintas di sana. Tapi saya tidak mengerti artinya lampu lampu merah itu di lapangan terbang. Saya tidak tahu.

T: Lampu merah itu lampu jalan…

J: Bukan. Kiri kanan merah semua (sambil memberi contoh). Saya terus saja. Ditahan oleh military police. Dia maki-maki saya. Dia bilang, “sir, didn’t you see the red light ? Gua tidak tahu bahwa ada kapal terbang mau mendarat. Betul (ketawa). Orang Melayu sopir dari Suroso, menganggap saya, wah hero toh. Dianggapsaya itu orang Indonesia,kan itu pejuang, bukan main. Saya deg-degan betul. Kalau kami terus, terang tabrakan. Kapal terbang hancur kita hancur toh. Setelah kapal Royal Air Force turun dan lampu-lampu mati, saya potong jalan. Melihat ke kapal terbangnya Mr. Critchley. Sudah kelihatan jelas. Entah sepuluh dua puluh meter dan sana saya ditahan polisi militer. [Dia tanya] , “Who are you and where are you heading“. Saya bilang, I am a member of the United Nations commission (ketawa). Wah, naik kapal terbang. Critchley enak saja, dia bilang, “some trouble dr. Halim“, ada kesulitan tidak. Taik kucing saya pikir. Kesulitan. Nah itulah yang saya alami tahun 1947.

T: Baiklah. Sekitar Linggarjati bagaimana pak. Bapak waktu itu ada di mana, waktu Linggarjati diparaf.

J: Saya kebetulan, ketika Linggarjati itu diparaf, berada di Medan. Tentu saudara ingin tanya kenapa kok ada di situ.

T: Dan dalam rangka apa.

J: Dalam rangka Republik Indonesia ini ingin mengokohkan kedudukannya di dalam dan luar negeri. Kita sebetulnya benar de facto berkuasa atas Jawa dan Sumatra. Dan kita ingin supaya kontak dengan Sumatera itu diperkokoh, dengan suatu mission atau delegasi ke Sumatera.

T: Yang membentuk delegasi siapa. Sjahrir.

J: Pemerintah.Waktu itu (tertegun sebentar) mungkin ide dari Sjahrir. Tapi setahu saya soal serupa itu banyak diurus oleh Kementerian Dalam Negeri. Dulu kita tidak terIalu mempersoalkan surat keputusan seperti sekarang. Dulu praktis hampir tidak ada begitu. Setahu saya tidak ada yang memerintahkan ke sana, [mungkin] Menteri Dalam Negeri.

T: Terus bagaimana Bapak di Medan.

J: Jadi kami dikirim ke Sumatera, antara lain sebagai ketua delegasi adalah Gubernur Hermani salah satu senior waktu itu yang sangat menonjol dalam pamong.

T: Delegasi itu dari Jakarta.

J: Ya dari Jakarta. [resminya] dulu pak Wongsonegoro, Gubernur Jawa Tengah. Tapi Hermani ini mendapatkan kedudukan sebagai Gubernur istimewa di [Kementerian] Dalam Negeri. Apakah dia seperti roving ambassador, atau dia katakanlah kayak sekarang barangkali Inspektur Jenderal, saya tidak tahu. Pada waktu itu dia mendapat nama Gubernur Istimewa. Dan dialah yang mengetuai delegasi.

T: Anggotanya siapa saja.

J: Mr. Abdul Madjid, saya sendiri. Sudah itu ada beberapa yang sebetulnya tidak usah kita sebut, sebab hanya [merupakan] tenaga administratif yang bertugas membuat catatan-catatan. Sampai di Palembang ada Mr. Amir Sjarifuddin.

T: Tapi tidak sama dari Jakarta.

J: Tidak… (berpikir sejenak) tunggu dulu. Ikut juga waktu itu kalau saya tidak salah Mr. Lukman Hakim. I am not sure. Dan di Palembang itu, tentu Bung Amir sebagai seorang pentolan yang telah mempunyai nama mengadakan pidato di KNI Daerah. Sudah itu kami pergi melalui jalan darat ke Medan melalui Bukittinggi. Sekarang saya ingat, di bioskop Jambi diadakan rapat raksasa, pidato dan sebagaimana biasa, tanya jawabnya bebas, untuk memuaskan semua orang yang datang. Saya agak kurang percaya pada diri sendiri, karena itu Mr. Abdul Madjid sajalah yang ber pidato. Tapi akhirnya, di Bukittinggi saya terpaksa juga. Saya bicara dan menjawab segala pertanyaan yang datang. Kemudian ke Padangsidempuan, sudah itu sampai di Medan.
Di Medan kami menginap di rumah Mr. Jusuf, walikota
Medan. Ketika saya di situ kebetulan dapat telepon dari Pematang Siantar, dari Gubernur Sumatera Mr. Teuku Moh. Hasan. Waktu itu setelah pemarapan Linggarjati. Orang-orang datang ke kantor Gubernur, [seperti] orang-orang partai, KNI daerah, semuanya datang. Kalau ada satu orang yang bikin panas, semua bisa saja terjadi. “Ini negeri sudah mau dijual, begitulah”, [kata mereka]. Dan karena itu kami diminta [menjelaskan] Kebetulan ada delegasi dari Jakarta, dari pusat. Paling kurang satu orang atau semuanya diminta datang ke Pematang Siantar. Kemudian dibicarakan dengan Mr. Jusuf, Mr. Hermani, Abdul Madjid dan saya. Madjid sebagai politikus ditunjuk. Tapi beliau mengelak, sehingga saya sendiri [pergi] ke Pematang Siantar. Saya masih ingat itu, pergi ke sanadengan mobil Chevrolet 1941. Saya berangkat pukul 6 sore ke sana. Makan malam dahulu, sementara di tempat pertemuan sudah penuh orang. Saya tanya dulu [masalahnya] kepada Gubernurnya. [Dia bilang] , “orang-orang ini tidak begitu senang tentang Linggarjati”. Saya hanya mengetahui Linggarjati intinya saja. Jadi tidaklah mengetahui paragraf-paragraf. Sebab saya tidak pernah ikut berunding. Yang dilihat orang-orang di situ hanyalah [daerah] de facto Republik Indonesia atas Jawa, Sumatera dan Madura. Dulu saya sudah katakan kepada saudara, soal Hoge Veluwe. Mereka tidak mau sampai ke sana. Linggarjati lebih jauh lagi. Timbul persoalan, “kenapa mau saja menerima cuma Jawa dan Sumatera? Semua orang diizinkan [berbicara]. Menurut Gubernur waktu itu banyak orang sayap kiri sebetulnya yang ikut memanaskan keadaan.

T: Justru sayap kiri.

J: Ya. Kenapa mau menerima saja, kan yang kita perjuangkan Proklamasi Indonesia Merdeka. Kenapa perjuangan harus dibagi-bagi.Banyak yang ditanyakan. Kedua, yang menanyakan soal UNIE. “Kenapa mau di bawah rok Yuliana”. Jadi saya mendapat kesan, kelihatan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan hanya emosional bukan realitas. Saya jawab seperti biasa: saya kasi dulu panjang lebar soal pergolakan negara ini; soal bahwa kita harus tahu mengukur keadaan, negara kita ibarat bayi bar lahir; soal bahwa kita harus tahu mengukur kekuatan tenaga sendiri; dan juga kepandaian melihat kenyataan. Saya waktu itu yakin, bahwa perjuangan Indonesia Merdeka ini akan lebih cepat berhasil, jika kita menarik simpati Internasional dan tidak terdorong oleh emosi dan sebagainya. Memang waktu itu TKR sudah dibentuk, disebutkan tentara kita berkuasa di SumateraJawa dan Madura. Dus fakta. Secara terus terang saya katakan, saya sendiri orang yang dekat pusat, saya tidak tahu persis apa yang terjadi diKalimantan maupun di Sulawesi. Tapi yang saya tahu mereka sama sedarah sedaging dengan kita. Bagi saya, minta de facto sebagai estafet untuk pengakuan dunia Internasional. Dan insyaf bahwa bagaimanapun juga bangsa kita yang di luar daerah Sumatera, Jawa dan Madura ini, tidak bisa tidak akan menaruh simpati, dan akhirnya toh akan menyerahkan keinginannya setelah ada perdamaian dan kebebasan mengeluarkan pendapat, akan menjadi suatu negara dengan kita. Itu keyakinan saya. Kedua kalau kita telah sanggup mengatur Jawa, Sumatera dan Madura sebaik mungkin, ya dengan sendirinya, orang lain juga ingin seperti itu. Jadi kita mengatur keadaan dalam negeri sebegitu rupa, sehingga rekan-rekan kita di seberang, di tempat yang lain itu melihat Republik Indonesia, bangsa kita memerintah sendiri, akan menumbuhkan pula keinginan mereka untuk bersama-sama dengan kita. Dan saya yakin pula, mereka sama rasa dengan kita. Kita di Jawa dan Sumatera lebih terorganisir baik daripadaKalimantan dan Sulawesi, sehingga kita yang lebih dahulu. Tapi itu suatu testing. Saya yakin pada waktunya mereka akan bersaina kita menghadapi Belanda. Dan keyakinan saya ini boleh saya katakan [menjadi] kenyataan. Ketika saya membuat artikel, “Menuju KMB dengan satu atau dua delegasi, itu nyata bahwa akhirnya orang B.F.O., kadang-kadang lebih ekstrim dari kita mengenai Irian Barat tempo hari. Itu sudah terjalin. Dan saudara jangan lupa yang menambah keyakinan saya ketika Aksi Militer ke II itu, Anak Agung Gde Agung meletakkan jabatannya. Dus jelas apa yang saya katakanlater on, yaitu akan dibuktikan dan persis apa yang juga saya dengar di KMB. Saya tidak takut, [tapi] saya dengar apa yang terjadi di situ. Kecuali yang tidak begitu barangkali hanya Sultan Hamid, yang lain kadang-kadang lebih nasionalis dari nasionalis. Setelah melihat orang Indonesia begini dan sebagainya, mereka tidak mau ketinggalan. Dikatakan antek Belanda toh. Sedikit saya stip dari apa yang saya ceritakan, kembali kepada pertemuan itu, saya mengatakan di dalam sejarah negara itu, waktu dua tahun tidak ada artinya. Tidak seperti manusia. Tapi bisa saudara bayangkan, saudara bisa terima umpamanya, bahwa negara Republik Indonesia barulah bayi, masih anak kecil. Karena itu kita tidak bertanggungjawab rasanya untuk mengadu [kekuatan] dengan raksasa. Jadi malahan raksasa-raksasa yang menguasai dunia sekarang itu, kalau bisa simpatinya kita tarik kepada kita.

T: Apa tanggapan mereka dengan keterangan Bapak itu.

J: Mereka umumnya saya kira terlalu banyak dengar interpretasi sepihak atau sama sekali belum informed dengan keadaan. Mereka praktis tidak ada yang tahan lama berdebat. Dus semua yang ada dikeluarkanlah, dan mereka puas. Setelah itu Gubernur datang, mengambil oper rapat. Mengucap syukur bahwa tidak ada yang salah pengertian. Dan kami makan.

[Sebelumnya] Gubernur Teuku Muhammad Hasan berjanji (sambil mengetok-ngetak pelan di meja), mau mengasih ban empat (sambil tertawa). Dia bilang, “karena ada persetujuan dari [hadirin] terpaksa saya mesti caxi ban empat”, (sambil tertawa bersama) sesuai dengan janjinya sama saya toh.

T: Karena berhasil menenangkan suasana itu.

J: Ya. Saya bawa ke Jakarta dengan kapal terbang KNILM.
Di pedalaman sangat sulit mendapatkan ban mobil pada waktu itu.

T: Naik kapal terbang dari Medan.

J: Dari Medan. Dan saya kembali. Nah begitulah soal Linggarjati yang saya alami di Sumatera.

T: Jadi kalau begitu selama perjalanan Bapak ke Sumatera, yang sebetulnya bersamaan dengan diparafnya Linggarjati, apa kesan Bapak terhadap masyarakat yang Bapak lalui. Ya terutama pada saat Linggarjati itu diparaf.

J: Kalau saya melihat pada waktu itu ada ketaatan mereka terhadap pusat.

T: Ada ya.

J: Bukan ada, tapi luas. Menerima pusat datang bukan main hormatnya. Dan saya rasakan itu sendiri.

T: Kalau Bapak tadi bilang ada anggota yang Bapak ketemukan di Pematang Siantar, yang kebetulan sayap kiri yang menentang Jakarta [dan] tidak suka Linggarjati. Itu bagaimana.

J: Ini begini. Saudara jangan lupa, seperti saya katakan, perjalanan kami itu ke Sumatera dari Palembang ke Utara, itu belum ada Linggarjati. Dus baru [ada] ketika sampai di Medan. Dan dari seluruh Sumatera boleh jadi Sumatera Utara yang lebih maju saya kira dalam soal ini. Mereka sudah gemar dengar radio atau bagaimana untuk mengadakan pendapat sehingga sampai begitu rupa, “ini apa, ini kok Juliana atau begini-begitu”, pendeknya kritik deh. Dan dalam masalah ini asal kita dapat memasukinya dengan balk, mereka mudah dirangkul.

T: Jadi kekurangan informasi kalau begitu.

J: Ya, kekurangan informasi. Atau ada juga salah satu yang pintar, kita tidak tahu, yang telah lebih dahulu memasukkan jarum-jarumnya. And anyhow dalam rapat itu tidak terasa lubang-lubang. Mula-mula saya takut. Sebelumnya saya kan dikasi info dulu mengenai mereka yang galak-galak. Saya dengar nama-nama itu dari Mr. Teuku Moh. Hasan. Karena itu saya sangat hati-hati. Cuma, kami enak [menerangkannya]. Saya bilang, bahwa saudara-saudara sangat berkeberatan pengurangan daerah, begini-begitu dan sebagainya. Saya ikut merasakan. Siapa yang tidak. Bukankah Sumpah Pemuda kita [menghendaki persatuan]. Saya bawa ke situ. Tapi kita jangan lupa lase perjuangan ini bagaimana cara memasukinya. (diam sejenak).

T: Sekarang bagaimana kalu kita lompat ke tahun 47 pak…

J: Silahkan.

T: Tahun 47 itu seperti yang Bapak pernah ceritakan pada pertemuan yang pertama, ada dua hal yang saya catat yang saya kira bisa saya gali dari ingatan Bapak: pertama, pada awal tahun 1947 itu Bapak mengikuti sidang Pleno KNIP di Malang yang berhubungan dengan Linggarjati ini; kedua, pada bulan Juni menjadi Komisaris Pemerintah Republik Indonesia di Jakarta, yang katanya langsung bertanggungjawab kepada Dewan Menteri. Yang mana yang ingin Bapak ceritakan lebih dahulu.

J: Saya kira Linggarjati iebih dahulu. Kronologis sajalah kita mulai.

T: Ya sidang KNIP di Malang lebih dahulu.

J: Kalau sidang KNIP di Malang saya lebih dahulu sudah dikasih tahu oleh kawan saya yang bernama Mr. Burhanuddin Harahap, orang Masyumi, juga bekas Perdana Menterilater on; ia bersama saya sebagai anggota Badan Pekerja ketika kami di Purworejo. Dia sudah bilang sama saya, “apapun [yang] akan kamu kerjakan, Masyumi dan PNI tidak akan menerima”. Itu saya sudah dikasih tahu. Lepas dari person-person, umpamanya Roem, Natsir. Tapi qua partai tidak setuju. Sejak di Purworejo saya sudah tahu. Ada Syamsuddin Sutan Makmur, Mr. Sartono, juga sudah masuk Badan Pekerja. Ada Sjafiuddin dari Jatim, Lukman Hakim [kemudian] diganti Sartono. Konstelasi di Badan Pekerja di Purworejo. [ada] Partai Sosialis, PNI, Masyumi, non partai [dan sebagainya] .

T: Seimbang.

J: Tidak. Kalau voting mereka menang one point. Kalau voting selalu Partai Sosialis kalah. Kalau kita sampai ke sana, begitu bencinya Mr. Sartono ataupun orang PNI terhadap Sjahrir, “setan Sjahrir”, sehingga saya kalau memasukkan suatu usul inisiatif saya pergi lebih dahulu [kepada] Lukman Hakim atau [ke] pak Mangunsarkoro. Dia setuju. OK. Mereka [lah] yang mengajukan dan kami nantinya ikut menyokong.

T: Jadi lewat tangan lain.

J: Oooo ya. Akhirnya main toh, saya main. Pada suatu ketika suasana rapat di Purworejo sudah instansi ke satu. Instansi kedua ya toh, and soon kan sudah pandangan. Argumentasi kita begini-begini, terus voting. Na, yang saya mau ceritakan sebuah anekdot. Saya berangkat ke Purworejo dengan mobil. Saya punya mobil. [Sedangkan] mereka mesti berangkat dengan kereta api ke Kutoarjo. Pada waktu itu yang paling dahulu datang adalah Sjamsuddin Sutan Makmur (PNI). Anggota Badan Pekerja lebih banyak [menginap] di Hotel Merdeka di Malioboro, sekarang Hotel Garuda.

T: Tinggal masih di Yogya, walaupun rapat di Purworejo.

J: Ya di Malioboro. Sering juga kita tinggal di Purworejo. Saya juga pernah tinggal di Asrama Purworejo itu, tidur di atas tikar bagor. Lambat laun banyak yang tidak betah karena tidur di atas tikar bagor itu. Wah prihatin sekali. Karena itu para anggota sering tinggal di Hotel Merdeka, walaupun sidang tetap diadakan di Purworejo. Jadi kita bolak-balik Yogya-Purworejo. [Kalau] saya bayangkan suasana di Purworejo kebetulan pada suatu ketika ada persoalan atau masalah yang sudah sampai di ambang pintu pengambilan voting atas sesuatu usul dari lawan kita PNI, Masyumi, dan non partai yang kami tidak bisa terima. Kalau voting terjadi kita pasti kalah. Kebetulan waktu itu di Purworejo ada penyakit pes yang dibawa oleh tikus besar. Apabila kena kutu [tikus] itu bisa kita mendapat pes, [bahkan] bisa mati.
Kebetulan pula rumah tempat kami menginap atapnya bocor, dan sedang dibongkar. Diketemukan satu dua cicurut mati. Sjamsuddin Sutan Makmur orang PNI yang selalu mengejek saya sebagai “rok van Juliana”, sudah datang dari Yogya. Saya pakai pengetahuan saya sebagai dokter untuk menakut-nakuti Sjamsuddin. St. Makmur. Saya berkata, wah pes, bahaya pes. “Bahaya ini kita, ratten“, [kata] Sjamsuddin St. Makmur. Sutan Makmur terus kabur ke Yogya, bilang sama kawan-kawannya, “ada pes di Purworejo, dr. Halim bilang begitu”. Jadi tidak jadi sidang. Sehingga apa itu, usul PNI yang harus diterima, karena tikus tidak jadi [dibicarakan] Bukan saya lebih-lebihkan. Mereka kaget betul. Padahal itu hanya cicurut segini-segini (sambil memberi contoh) dan bukanlah tikus-tikus [ratten] pembawa pest. [Kalau jadi] voting terang kami kalah. Saya sudah keki betul. Habis, kami sudah capek ngomong. “Baiklah kita pungut suara”, [kata] mas Ton. Dan untuk mengelakkan [voting] itu, saya buat kejadian seperti tadi. Cerita saya ini bukan hanya lelucon tapi juga kenyataan. Itulah untungnya seorang politikus jadi dokter…

T: Atau dokter jadi politikus.

J: Ya begitulah. Itulah sedikit mengenai Badan Pekerja KNIP di Purworejo.

T: Terus… (sambil tertawa bersama). (diam sejenak).

J: Jadi baiklah. Kita akan bicara menjelang sidang [KNIP] di Malang. Saya punya pendirian, mereka itu samasekali tidak ada kepercayaan terhadap Belanda.

T: Mereka itu siapa.

J: PNI dan Masyumi. Kalau Bur itu terhadap saya tidak bisa menolak. Tapi dia diikat oleh disiplin partai yang begitu kuat, [sehingga] dia tidak mau lagi dengar omongan saya. “Lim apa saja yang kamu bilang, kami selalu tolak”, katanya dalam bahasa Belanda. Dan saya sudah siap itu.

T: Apa latar belakangnya, pak Burhanuddin Harahap mengatakan begitu terhadap Bapak.

J: Memang begitu keadaan. Natsir kan orang Masyumi juga, dia sangat close dengan saya [waktu jadi] Menteri Penerangan.

T: Maksudnya secara pribadi dekat.

J: Memang di dalam [Masyumi] di bawah Sukiman dan di PNI Sidik mereka tidak bisa melepaskan diri mereka dari apa yang telah mereka nyatakan dalam Persatuan Perjuangan, kongkrit,”berunding dengan Belanda kalau mereka telah di laut”, begitulah secara kasarnya.

T: Jadi konsekwen terhadap gagasan Persatuan Perjuangan maksudnya…

J: Ya ini pendapat saya. Mereka tidak masuk Persatuan Perjuangan.

T: Ya.

J : Jadi ketika [sidang KNIP] di Malang itu, saya yang akhiri dengan mosi. Kalau quorum tidak tercapai, tidak bisa toh; kalau Masyumi, PNI, keluar. Seperti memang terbukti [kemudian] mereka meninggalkan sidang. Kalau quorum rapat itu tidak tercapai, Linggarjati tidak bisa [disahkan] . Saya sudah diyakini oleh Supeno bahwa quorum akan tetap tercapai.

T: Jadi formalitas…

J: Ya, artinya kita kan harus membawanya ke KNIP. Dan kami sudah tahu Masyumi PNI apriori menolak. Tapi rapat itu kan harus diadakan. Walaupun saya sudah tahu hasilnya, [akan] diterima dengan suara bulat. Jadi saya tidak begitu ribut. Hanya memang kita pada waktu itu ingin bersilat lidah dengan politician-politician yang punya nama. Kan telah [ada] PP. No. 6 Tahun 1946. Supeno sudah memberikan garansi kepada saya, kalau sampai diambil voting. Karena itu saya berlagak pilon. Saya buat pidato sebaik-baiknya di Malang itu.

T: Apa itu pidato Bapak.

J: Ya ini. Saya membela Linggarjati. Kan [sidang] ini buat Linggarjati. Dan berakhir dengan mosi, percaya dan setuju memberi wewenang kepada Pemerintah untuk menandatangani [Linggarjati] . Saya dan kawan-kawan saya dari sayap kin (Setiadjid Cs), diminta semua jangan meninggalkan Malang. Kita yakin, Bung Karno – Bung Hatta itu pengaruhnya masih sangat besar. Sukarno-Hatta setuju sama Linggarjati.

T: Kenapa mereka setuju…

J: Kalau Hatta setuju memang karena ikut berapa kali dari Yogya pergi ke Linggarjati. Memang sepantasnya mereka setuju. Karena memang sejak permulaan seperti saya katakan, mungkin dalam kepala big boss berpikir, kalau Republik Indonesia diakui de facto, kan [berarti] de facto Presiden juga diakui. Seperti yang saya katakan cap Jepang-nya akan hilang deh. Karena itulah ketika kami mengajukan kepada Sukarno agar mengganti Kabinet Presidensial menjadi Sjahrir Cs, buat pandangan luar negeri itu bukan bikinan Jepang, tapi corak underground anti Jepang, Bung Karno setuju saja.

T: Kembali ke pidato itu, bagaimana pidato itu disusun.

J: Saya susun sendiri. Positif menerima Linggarjati.

T: Sikap Bapak terhadap mosi yang Bapak buat di Malang itu, apakah lebih banyak dirangsang oleh sayap kin [atau] oleh hal-hal lain, sehingga Bapak itu punya pikiran [untuk] mengajukan mosi terhadap KNIP di Malang.

J: Tidak ada. Saya dapat menangkap pertanyaan saudara itu. Saya itu sangat independen. Sebelum di Malang, sayap kiri berkumpul di Gondolayu No. 13 Yogyakarta. Saya ditawarkan menjadi pemimpin fraksi sayap kiri di Badan Pekerja pada waktu itu.

T: Yang menawarkan siapa.

J: Tan Ling Djie Cs, Abdul Madjid, Maruto, siapa lagi ya. Saya jawab, kenapa saya yang dipilih. “Ya, saudara sebagai non partai”, [kata mereka]
Saudara jangan salah paham, kalau saya jadi pemimpin, saudara akan rasa bahwa saya tidak bisa jadi [anggota], hanya dijadikan alat.

T: Akhirnya siapa yang dipilih.

J: Tidak tabu.. Saya kira Krissubanu. Pendeknya begitulah caranya mereka bekerja, sehingga perdana menteri-pun dibegitukan [oleh] Amir [dan] Tan Ling Djie Cs. Dus pertanyaan saudara, apakah itu diatur. Nonsense. Mereka-mereka itu dekat [sama] saya, tapi saya juga dekat dengan Sukiman [dan] Sakirman. Jadi saya tidak bisa dibegitukan. Jadi kalau kita teruskan ke Linggarjati, memang itu kayaknya terus terang,we have got to go through the motion. Tanpa kita mengerjakan itu, kita salah, dan karena itu harus dikerjakan, harus disidangkan.

T: Nanti kita sambung lagi.

J: Baiklah kalau begitu …

https: //aswilblog.wordpress.com/2008/12/08/kenang-kenangan-dr-halim-bab-v/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s