Kenang-kenangan dr. Abdul Halim: Bab II

II. MENJADI ANGGOTA BADAN PEKERJA KNIP

Picture: Tropen Museum

T: Pada pertemuan sebelumnya, Bapak telah menceritakan kepada kami bahwa Bapak mendatangi Bung Karno pada tanggal 14 Agustus 1945. [Mengapa] Bapak mendatangi Bung Karno.

J: Saya termasuk yang menginginkan Proklamasi hendaknya dilakukan se­belum Jepang formal menyerah. Karena itu saya datang kepada Bung Kar­no. [ Saya katakan] , keadaan sudah begini, sebaiknya lebih cepat berbuat sesuatu yang berhubungan dengan Proklamasi. Tapi saya harus akui, ba­rangkali dapat dihitung berapa orang yang sependapat dengan saya. (Diam sejenak).

T: [Apakah Bapak sendiri saja], pergi

J: Ya sendiri saja, mengendarai sepeda ke Pegangsaan Timur No. 56. Saya sudah dengar pada akhir kekuasaan Jepang itu, [bahwa] Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia [PPKI] dan sebagainya sudah ada, semua didele­gasikan oleh Jepang. Dan justru karena itu, saya ingin [Proklamasi] ini bukanlah bikinan Jepang.

T: Maksud Bapak dilakukan di luar PPKI.

J: Saya sepenuhnya sudah yakin, bahwa Jepang akan dipandang sebagai negara fascis, tidak ada demokrasi samasekali. Dan kalau kita melaksana­kan setelah Jepang menyerah saya rasa akan dipandang sebagai buah daripada kolaborasi dengan Jepang. Ternyata setelah saya, tanggal 15 dan 16 [Agustus] , Sukarni dan Chairul Saleh datang ke Bung Hatta, [Suasana waktu] itu masih hiruk pikuk, belum ada kejelasan. Rol saya di sekitar Proklamasi sangat minim, kalau tidak dapat dikatakan nol sama­sekali. Ketika Proklamasi akan diucapkan saya cuma datang menonton. Bukanlah orang yang ikut [berperan] samasekali.

T: Bapak juga hadir.

J: Hadir. Kemudian saya kembali ke rumah sakit.

T: [Ke] RSUP . . .

J : Ya. CBZ dengan pengertian, saya cuma akan mengambil peranan pasif, melihat bagaimana perkembangan. Maka itu dengan tidak saya duga, saya diangkat menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Saya dapat surat untuk hadir di Rumah Komidi itu, Stadsschouwburg namanya [pada jaman] Belanda. Waktu menerima pengangkatan itu saya tidak merasa gembira; merasa canggung. Baiklah, saya ingin melihat, saya akan ikut. Di dalam sidang KNIP itu [ada sekitar] 300 orang atau lebih. Banyak intelektual yang diundang untuk hadir pada rapat itu. Dan saya sendiri sudah lupa apakah saudara Kasman Singodimedjo kami yang memilih atau ditunjuk oleh Bung Karno. Yang saya ingat saudara Kasman memang cepat betul berbicara dan mengatakan keadaan sangat genting dan sebagai­nya. Kita mesti mengambil keputusan secepatnya.

Dalam sidang itu menurut paham saya, hampir tidak ada pertukaran pikir­an antara pimpinan dengan auditorium, dengan hadirin. Mungkin juga (berhenti sejenak) kawan-kawan di dekat saya itu belum menginsafi ke­wajiban yang melekat pada keanggotaan KNIP itu. Dus kita masih belum ada pikiran mau begini mau begitu.

T: Sebelum Bapak menerima undangan itu apakah dihubungi [terlebih dahulu] .

J: Tidak.

T: Atau telepon barangkali.

J: Tidak.

T: Siapa yang menandatangani undangan itu.

J: Saya lupa samasekali.

T: Bung Karno.

J: Bukan. Setahu saya bukan tandatangan Bung Karno.

T: Kemudian kalau memang tidak dihubungi untuk menjadi anggota KNIP, tapi pada waktu itu akhirnya Bapak juga hadir di Gedung Komidi itu. Barangkali Bapak mempunyai alasan-alasan tertentu untuk hadir di Ge­dung Komidi itu. Kira-kira pada saat itu apa yang menjadi pikiran Bapak untuk ikut.

J: Tidak sebiji rambutpun dalam pikiran saya untuk tidak akan I got to go, mesti datang.

T: Mestinya itu kenapa.

J : Na, ini karena keinsyafan, ini soal negara, konsekwensi dari Proklamasi. Tapi saya tidak pernah menanya kepada diri saya sendiri. Saya kira hampir semua yang ada di tempat, di Jakarta semuanya hadir, [sebab ruangan] itu semuanya penuh.

T: Bapak tadi menyebutkan [ada] semacam sikap dari Bapak pada tahun 1945, bahwa Bapak menginginkan Proklamasi Republik Indonesia itu tidak berbau Jepang. KNIP itu banyaksedikitnya merupakan realisasi dari Pasal IV Aturan Peralihan Undang-undang Dasar 1945 6) yang disyahkan pada tanggal 18 Agustus [1945] oleh sidang PPKI yang nota-bene sebelumnya ada sangkut pautnya dengan Jepang.

J: Ya, saya mengerti maksud saudara. (berpikir sejenak). Saya sejak semula ikut underground, saya [tidak] ikut dengan cooperation di atas. Jadi… (berpikir sejenak)… ingin melaksanakan seterusnya. Deegan arti kata ada satu keinginan Proklamasi hendaknya jangan berbau bikinan Jepang.Saya sendiri pada waktu itu sudah menyadari atau menginsyafi bahwa the majority dari pimpinan kita itu menganggap [bekerjasama] dengan Jepang itu biasa, suatu realitas. Mula-mula memang saya kira setelah Proklamasi dilakukan, “ah kita sudah merdeka”, sudah itu [sebaiknya] saya kembali ke rumah sakit (ketawa). Tapi karena ada panggilan, terus saja, ah, tidak bisa saya abaikan persoalan ini, begitulah.

T: adi undangan itu Bapak terima pada waktu Bapak tinggal di Jalan Muria.

J: Ya Jalan Muria 19…

T: Apakah Bapak ikut aktif seterusnya, sampai KNIP itu mengadakan sidang pleno pada bulan Oktober; kan ada masa itu antara Agustus sampai Oktober.

J: Saya bukan ikut aktif, tapi menjadi aktif. Karena saya didatangi [oleh kawan-kawan] dari Garut, dari Tegal. Mereka datang ke rumah.

T: Mereka itu siapa.

J: Kalau dari Garut almarhum Abdul Muis.

T: Pers itu . . .

J: Ya, yang membuat buku “Salah Asuhan”. [Dia] datang dengan beberapa orang dari Bandung, saya lupa namanya; meminta petunjuk buat Komite Nasional Daerah dan sebagainya. Hal itu saya [lakukan] tanpa pimpinan. Kita [rnempunyai] understanding dengan Kasman, karena kita kawan baik. Kasman tahu siapa saya dan saya tahu siapa dia (sambil ketawa cekikikan).

T: [Yang] datang itu apakah sebelumnya sudah merupakan kelompok dibawah tanah [bersama-sama dengan] Bapak di Jaman Jepang.

J: Tidak

T: Bagaimana caranya Bapak mengenal mereka.

J: Saya kenal entah di mana, saya juga tidak tahu, tapi [yang] jelas mereka datang ke Jalan Muria. Entah ada diumumkan [nama-nama] anggota KNIP di koran dulu, saya tidak tahu…

T: Pada umumnya apa yang menjadi titik perhatian mereka

J: Ya, paling-paling soal pembentukan KNI daerah. Tapi yang paling banyak ditanyakan adalah mengenai political situation.

T: Tentang Jakarta.

J: Jakarta, ya, dunia. Saya ulangi sekali lagi, saya kebetulan banyak mendengarkan radio, apalagi setelah Jepang [menyerah] , radio tidak disegel lagi. Jadi kalau saudara menanyakan apa aktivitas saya antara Agustus [sampai Oktober], sebetulnya tidak ada, kecuali didatangi orang.

T: Selain menerima teman-teman yang datang dari daerah, apa lagi kegiatan-kegiatan Bapak pada masa-masa itu.

J: Tidak ada.

T: Di rumah saja.

J: Ya, tiga kali .seminggu saya memberi informasi tentang situasi di rumah sakit, sehingga mereka selalu mengetahui keadaan. Cuma seingat saya antara Agustus sampai 16 dan 17 Oktober itu, tidak ada kegiatan saya. Aktivitas saya bukan sebagai anggota KNIP adalah antara lain menemui nak Wiryo dan pak Wilopo di Pegangsaan Timur. Saya sudah lupa apakah pak Soediro sudah ada di situ. Saya sering ke Pak Wiryo untuk minta bantuan. [Rumah mereka] dekat rel kereta api. Pak Wilopo memberikan pandangan, berdebat, diskusi…

T: Bukan di rumah Bung Karno itu.

J: Bukan, rumah Bung Karno di Pegangsaan. Saya masih jauh dari Bung Karno, sebab sudah dua kali saya pernah berbeda pendapat dengan beliau di Jalan Sunda…

T: Diskusi-diskusi yang dilakukan dengan anggota-anggota [bawah tanah] pada Taman Jepang itu apa juga diteruskan setelah Proklamasi, terutama. dengan Sjahrir.

J: Itu jelas.

T: [Apakah] diskusi itu diadakan di Jalan Muria.

J: Tidak, selalu di Jalan Tambak 21. Setelah Proklamasi itu kita berkumpul lebih leluasa…

T: Tentu anggotanya bertambah.

J: Ya, Ali Budiardjo, dan Sudarpo

T: Kalau pak Mangunsarkoro, bagaimana.

J: Tidak. Mangunsarkoro baru rapat dengan saya itu ketika kita sudah menjadi anggota Badan Pekerja I setelah [sidang Plena KNIP] tanggal 16-17 Oktober 1945.

T: Kalau pak Hindromartono itu.

J: Mr. Hindromartono itu serumah dengan saya di Kwitang No. 14 ketika kita sama-sama menjadi mahasiswa, [juga] Mr. Iman Sudjari. Mr. Sobari.

T: Kita lanjutkan ke bulan Oktober 1945. Saya ingat suatu peristiwa yang unik, sebehun diadakan sidang pleno KNIP, yakni adanya mosi dari 50 orang anggota KNIP yang meminta agar KNIP dijadikan sebagai badan legislatif. Bagaimana latar belakang mosi ini pak. Hal ini saya baca di karangan bapak dalam Revue Indonesia. Di situ dituliskan 50 orang anggota KNIP mengadakan referendum, yang mungkin merupakan salah satu sebab diadakannya sidang pleno KNIP itu. Bagaimana ceritanya, tentu bapak masih ingat. (ketawa).

J: Mungkin [digerakkan] para pemuda di Menteng 31, seperti Adam Malik, Sukarni, Chairul Saleh, dan siapa namanya (berpikir sejenak) Wikana.

T: Hanafi bagaimana.

J: Banyak deh. Saya sendiri agak jauh dari mereka. Tapi saya dengar di antara mereka Subadio ikut kalau tidak salah. Mereka tidak sabar melihat pemerintahan presidensial.

T: Sebabnya apa.

J: Sebabnya di luar negeri itu [diperdengarkan] apa yang disebut war criminal. Saya takut betul andaikata MacArthur dari Amerika yang mendarat di sini dan bukan Christison dari Inggris. Kalau Amerika mendarat ke sini [sesuai dengan isi] Potsdam, akan gawat. Secara pendek saja, semua yang bekerja dengan Jepang akan dibereskan. Untuk menghilangkan itu kita ingin rnembuat satu pemerintah yang tidak bisa dicap seperti itu.

T: Seperti itu apa…

J: Ya, war criminal. Lihat apa itu romusha dan sebagainya itu, dulu dianggap bukan main, kita bikin resolusi tentang itu di KNIP yang [diadakan] di depan rumah sakit untuk menghilangkan itu. Jadi group ini ingin betul supaya pemerintahan Bung Karno diganti.Tentu sudah ada pembicaraan-pembicaraan, tapi saya tidak ikut. Rupanya beberapa orang itu kasak-kusuk. Walaupun suasana sangat genting ketika [rapat pleno] di Balai Muslimin Kramat itu, toh seperti dipaksakan untuk mengadakan sidang. [Bagi mereka] yang terpenting adalah pembentukan Badan Pekerja. Dan sidang itu menghasilkan Maklumat oleh Bung Hatta toh.

T: [Maklumat] No. X.

J: Ya.

T: Jadi kembali pada pertanyaan referendum tadi, latar belakang dan prosesnya bagaimana.

J: Itulah, setahu saya cuma kasak-kusuk di Menteng 31, Adam mengomong begini, begitu. Saya Baru [mengetahui] ketika sudah menjadi [kenyataan] di Balai Muslimin itu.

T: Jadi referendum 50 orang anggota KNIP itu bapak tidak ikut tanda tangan…

J: Tidak, saya tidak ikut tanda tangan.

T: Saya ingin melanjutkan, yakni pada saat diadakan sidang pleno I KNIP itu sendiri di Balai Muslimin. Dalam sidang pleno itu, juga ada satu tindakan yang unik. Saya membaca isinya, tapi tak tahu bagaimana latar belakangnya, yakni suatu mosi dari Sukarni Cs yang mungkin merupakan salah satu sebab jatuhnya Kasman Singodimedjo sebagai ketua KNIP. Apa latar belakang mosi ini pak.

J: Kalau saya sendiri, mungkin saya salah, terus terang saia saya bilang, saya melihat penyebab itu adalah karena Kasman bekas Daidanco. Jadi kita melihat sebagai bayangan lain dari Indonesia, itu kaca mata saya. Dan juga dalam rapat itu memang ada perlawanan terhadap mosi itu. Tidak berarti gampang sama sekali. Sudah itu pemungutan suara, hampir seluruhnya setuju. Jadi rupanya yang hadir mengerti dan menerima usul itu. Memang, ketika kita mengadakan rapat itu tembakan-tembakan [di luar] masih terus. Waktu itu Nica kan sudah masuk. Jadi banyak juga orang yang menginginkan agar cepat-cepat pulang. Saya tahu, [karenanya] saya tidak kaget kalau mosi itu diterima saja.

T: Jadi suasana di luar memang tidak aman.

J: Ooooo bukan main.

T: Bapak waktu [itu] masih tinggal di [jalan] Muria.

J: Ya.

T: Dengan adanya gangguan-gangguan di luar sidang itu, apa tidak mengganggu bapak datang ke Balai Muslimin itu, atau bagaimana caranya bapak ke sana…

J: Naik sepeda…

T: Apakah mereka tidak mengganggu di jalanan.

J: Aaaaa begini ya. Karni sudah terlalu biasa dengan situasi itu. Pada waktu itu sudah mulai kebiasaan,nanti saya bisa ceritakan setelah Badan Pekerja KNIP dilahirkan dan mulai bersidang di sini (sambil menunjuk ke gedung Direktorat Jenderal Kebudayaan Jalan Cilacap No.4 di samping rumah pengkisah).

Ketika kita sidang mengadakan rapat, itu orang-orang yang menjadi kaki tangan Nica, melakukan tembakan, walaupun tembakan itu diarahkan ke atas. Bung Amir Sjarifuddin yang tinggal di Jalan Malabar, kalau pergi dari rumah dan mencium anaknya kadang-kadang bisa diartikan ciuman yang penghabisan. Jadi kita tidak begitu percaya pada situasi. Keadaan atau suasana waktu itu saya kira berlainan, suasananya lain, sehingga rasa takut itu tidak begitu mencekam kita.

T: Kalau saya boleh mengetahui pakaian-pakaian anggota KNIP yang datang itu bagaimana, pak.

J: Ya seadanya saja, biasa saja, ada yang pakai dasi.

T: Ada yang tidak pakai sepatu.

J: Ada, yang pakai slop ada.

T: [Apa ada yang memakai] sarung.

J: Beberapa ada. Pak Mangunsarkoro pasti pakai sarung (sambil ketawa).

T: Dan suasana sidang bagaimana.

J: Tidak ada formalitas. Kayaknya rileks, tapi ada tension dan luar. (berpikir sejenak). Rupanya waktu sidang Pleno I KNIP tanggal 16 Oktober diistirahatkan, Sjahrir [dipilih sebagai] formateur. Itu saya tidak ditanyakan…

T: Tentang apa…

J: Untuk jadi anggota [Badan Pekerja] . Itu pasti ada yang menyetir. Kenapa Badan Pekerja harus ada.

J: aaaaaaaa begini, tidak mungkin KNIP yang jumlah anggotanya besar dan heterogen itu akan dapat membuat peraturan-peraturan atau semacam Undang-undang dalam waktu yang secepat mungkin, sehingga memerlukan suatu Badan Pekerja yang homogen. Apalagi tingkat intelektual diperlukan untuk bisa menyelesaikan begitu banyak soal-soal berat. Saudara bisa bayangkan, saya sarnpai dapat ambeien tahun 45 itu.Sidang pukul 8 di sini, makan pukul 2 di sini (sambil tnenunjuk ke Cilacap 4). Pukul 4 sore saya pergi ke pak Wiryo, membantu Walikota, bersama Badio dan Supeno. Karena says bisa membawakan diri, akhirnya prosedur-prosedur hukum dan perundang-undangan itu bisa saya atasi. Dengan pengetahuan yang ada saya mencoba membuat rencana undang-undang, konsiderannya dan lain-lain mesti baik. Walaupun semuanya sudah baik, mesti juga dipikirkan moment-moment untuk mengeluarkan [undang-undang itu]. Untuk menguraikan a, b, c, daripada Undang-undang, saya pergi kepada Djokosutono, pernah dengar namanya.

T: Pernah.

J: Waktu itu beliau tinggal di Jalan Jawa. Saya datang kepada beliau beberapa kali dan kemudian saya sudah mencoba sendiri, dalam arti kata saya tidak takut lagi deh…

T: Ternyata Bapak juga [mempunyai] kemampuan dalam segi hukum.J

J: Ya, cukup, malah lebih dari cukup.

T: Walaupun seorang dokter…

J: Kentara, lebih rasional, ada keuntungannya.

T: Kembali ke pertanyaan, kenapa Badan Pekerja harus diadakan. Tadi Bapak baru menyebutkan dalam segi teknis.

J: Komite Nasional mempunyai anggota yang besar. Karena itu pekerjaan sehari-hari dan sebagainya diserahkan kepada Badan Pekerja KNIP. Salah sate contoh, yang membuat Maklumat 1 November yang ditandatangani oleh Hatta adalah Badan Pekerja. Kalau mau dipertegas lagi yang membuat adalah “setan” (sic) Sjahrir.

T: Dalam segi teknis [bertujuan] mengumpulkan intelektual, tapi segi politik apa. Kenapa harus ada Badan Pekerja.

J: Kita telah mengimpikan perlunya kabinet parlementer. Dalam sistem parlementer, kabinet akan bertanggungjawab kepada Badan Pekerja. Tidak lama sesudah itu, 14 November terbentuklah kabinet…

T: Parlementer.

J: [Gagasan] Sjahrir itu sangat gampang [diterima] , tidak ada perlawanan. Kemudian kita pergi ke Bung Karno, saya juga ikut ke Pegangsaan No. 56 ke Bung Karno, OK saya bilang.

T: Apakah tidak mungkin keinginan untuk mengadakan Badan Pekerja ini merupakan realisasi dari pikiran-pikiran kelompok-kelompok yang ingin parlementer…

J: Bisa saudara pandang begitu. Soalnya begini ya, kita menganggap pada waktu itu, bahwa kabinet parlementer lebih demokratis dari kabinet presidensial. Dengan sepia kesulitan-kesulitan seperti kabinet parlementer gampang jatuh, [dibandingkan] dengan kabinet presidensial. Tapi masalahnya begini, kita keranjingan untuk memperlihatkan ke [dunia] luar bahwa kita demokratis. Karena itu kalau saudara baca Maklumat 1 November itu, menganjurkan mendirikan partai-partai dan sebagainya, yang kemudian kita dilabrak habis-habisan oleh yang tua-tua itu kan. [Menurut mereka] cara ini akan memunculkan perpecahan nanti [pada] partai-partai. Pada waktu itu, saya dapat semprotan dari mas Sutardjo yang sudah tua itu, dan Raden Panji Suroso “dik Halim iki piye, wah begini-begini ya”. [Saya bilang] itu perlu, supaya dilihat luar negeri. Kita tidak bisa menyerahkan atau mempercayakan Indonesia merdeka ini hanya kepada kekuatan dalam negeri…

T: Kenapa.

J: Oleh sebab memang kita mempunyai cukup potensi untuk menghadapi tentara-tentara sekutu.

T: Potensi itu maksudnya ahli…

J: Maksud saya untuk mempertahankan negara Republik Indonesia pada waktu itu. Kita baru mulai dengan BKR, TKR, TRI dan sebagainya. Karena itu kita pakai tenaga-tenaga Internasional membantu kita, untuk itu kita harus memperlihatkan bahwa kita adalah negara demokrasi. Waktu itu kan dunia lagi keranjingan demokrasi, ketika sehabisnya the Second World War itu.

T: Jadi keinginan untuk mengganti sistem presidensial menjadi sistem parlementer disebabkan apa.

J: Ya, memang katni sendiri lebih cenderung kepada sistem parlementer, kita bisa berdebat mana yang lebih [baik].

T: Apa alasan-alasan pada saat itu.

J: Na itu, sekaligus supaya Bung Karno di luar tembakan, “buiten schot” dalam bahasa Belanda.

T: Maksudnya bagaimana.

J: Dia tidak berhadapan langsung dengan lawan, karena ada Perdana Menteri di depan. Presiden itu hanya simbolis saja. Jadi dia tidak akan terpojok lagi. First executive dalam kabinet parlementer adalah Perdana Menteri. Dus dalam parlementer kabinet tidak mungkin Sukarno ikut di situ. Dalam ide Sjahrir, [hal itu] juga ada. Dus Bung Karno lebih aman. Ini saudara jangan salah paham, kalau nanti sampai kepada Linggarjati…

Sebelum saya mengajukan mosi dalam sidang Pleno KNIP di Malang, saya mesti ke Medan untuk memperjuangkan [mosi] itu. Pada waktu itu saya sudah senang dengan [ide] Jawa – Sumatra saja. Jika dunia internasional telah mengakui Republik Indonesia, ya, hal itu [berarti] Presiden juga included. Saya puas, Bung Karno juga tahu, big boss saya. Saya juga setuju dengan Linggarjati. Bung Karno itu big boss, kalau Bung Sjahrir Bung kecil. Bung Karno setuju Linggarjati. Jadi parlementer kabinet seperti telah saya kemukakan tadi, in my interpretation, lebih demokratis menurut hemat kami. Kedua, pada waktu itu Bung Karno “buiten schot”. Bung Karno tidak lagi pegang eksekutif, di dalam parlementer kabinet itu, semua [kekuasaan] berpusat pada perdana menteri. Lihatlah di India atau di Malaysia.

T: Kok ada keinginan untuk mencap Bung Karno sebagai war criminal.

J: Bukan keinginan, tapi kemungkinan, bahwa dia akan dianggap war criminal. Oleh sebab itu memang bagi kami sejak semula terlepas dan Jepang, karena itu kadang-kadang ada diantara kami bilang terus terang [sebagai] “anjing Jepang”. Tuduhan dari Allied Forces sebagai war criminal itu yang kita takutkan, yang lain tidak insyaf, banyak yang tidak tahu. Soal [di atas] mulai berubah ketika Christison datang. Sebetulnya kita sudah hares merealisir [gagasan itu] .

T: Jadi sebelum sidang KNIP itu dimulai, apa tidak ada keinginan untuk menggantikan Bung Karno.

J: Ooooo tidak ada, di situ Bung Karno tetap punya nama. Begini ya, saudara jangan salah paham, nama Bung Karno sudah terlalu tinggi [untuk] bisa disingkirkan. Lagi pula kita menyadari bahwa Bung Karno adalah seorang pemimpin sejak jaman pergerakan Nasional. Pernah terjadi, ketika saya di AMS [akan] mengikuti examen AMS, ada pidato beliau di Gang Kenari. Saya datang ke Gang Kenari, sehingga saya tidak sempat lagi untuk membaca rumus-rumus buat examen keesokan harinya. Saya terpikat dan terpukau oleh big boss ini. Jadi bukan maksud kami untuk menyingkirkan beliau, tidak ada samasekali.

T: Kalau begitu dibalik, kenapa Bung Karno mesti dipertahankan.

J: Oleh sebab dia perlu di masyarakat Indonesia, siapa yang kenal kita…

T: Jadi apakah ada kekuatan-kekuatan dan keinginan pada saat itu, ya katakanlah menurunkan Bung Karno.

J: Tidak ada, itu positif saya bilang, tidak ada.

T: Di sidang KNIP…

J: Tidak ada, sepatahpun disebut-sebut.

T: Tapi Bung Karno sendiri pada saat itu tidak hadir.

J: Tidak. Pada sidang Pleno ke II KNIP Bung Karno juga tidak ada. Beliau yang hadir cuma di KNIP Solo, dan Malang. Solo sebentar.

T: Sidang KNIP di Gedung Balai Muslimin itu Bung Karno tidak ada, sedang ke mana beliau.

J: Tidak tahu, saya kira di kota…

T: Sekarang mengenai nama. Kenapa namanya harus Badan Pekerja, ya. The Working Committee, kenapa harus begitu, ide siapa.

J: Itu terjemahan dari the working committee, Work is kerja, barangkali begitu.

T: Ya, maksud saya kenapa namanya harus begitu, bapak masih ingat.

J: Tidak. Kayaknya semuanya sudah [setuju nama] Badan Pekerja. Saudara sekarang kritis kenapa Badan Pekerja (sambil tertawa cekikikan). Kami pada waktu itu tidak ada… Maksudnya itu terjemahan dari Working Committee of the Indonesian parliament begitu.

T: Kenapa ada keinginan agar KNIP itu dijadikan badan legislatif.

J: Ya, oleh sebab kita harus punya parlemen. Dan bagaimana membentuk parlemen, kita harus mengadakan pemilihan umum. Sebelum itu bisa dilaksanakan, maka dibentuklah suatu badan oleh Presiden untuk menyamai atau paling kurang, lebih baik kita mempunyai forum di mana tokoh-tokoh dan wakil-wakil daerah juga hadir, ya. Untuk mempertanggungjawabkan segala sesuatu tindakan [eksekutif] , daripada tidak sama sekali. Saya juga membuat karangan yang berjudul “Menuju kabinet parlementer.”

T: Kita lanjutkan mengenai pembentukan Badan Pekerja. Pada waktu itu ditunjuklah Sutan Sjahrir.

J: Amir, Amir Sjarifuddin [juga] sebagai formateur.

T: Ya. Kenapa beliau-beliau ini yang ditunjuk, sedangkan yang hadir dalam sidang Pleno KNIP itu banyak, seperti pak Kasman, pak Latuharhary dan pak Hindromartono.

J: Banyak [ada lagi] Imam Sudjari, dan sebagainya. Saya tidak bisa jawab kenapa Sjahrir dan Amir. Yang jelas Amir Baru datang dari [tahanan Jepang di] Malang. Kalau Sjahrir mereka kenal, dibuang Belanda ke Digul dan Bandaneira ya toh. Jadi orang-orang [yang] sudah sedikit mempunyai nama. Yamin ada, diam saja dengan pilihan sidang itu (tertawa). Pak Mangun yang suka protes, juga setuju. Bukan berarti dia sayang Sjahrir. Dia [kemudian] oposisi toh.

T: Maksud saya, alasan-alaian mengapa mereka yang dipilih. Tentu partisipan kongres KNIP ini punya alasan-alasan tertentu, yang terlontar dalam sidang. Pada saat itu siapa yang melontarkan atau yang mengajukan usul, supaya yang menjadi formatur adalah Sjahrir dan Amir Sjarifuddin.

J: Saya tidak ingat samasekali. Saya cuma tahu pembicaraan mula-mula, begini-begitu di Gedung Menteng 31 dan sebagainya. Tapi bahwa mereka sudah sejauh itu membuat rencana, formal saya tidak tahu. Tapi kenapa orang waktu itu tidak berkeberatan dengan Sjahrir dan Amir itu, saya tidak bisa jawab. Saya kira mereka tidak berkeberatan pada waktu itu mengingat suasana, tempat dan sebagainya.

T: Pada waktu sidang KNIP di Balai Muslimin itu jumlah [anggota] Badan Pekerja yang diputuskan adalah 15 orang. Kenapa timbul angka 15 ini.

J: (Tertawa). Saya tidak bisa jawab pertanyaan saudara. Betul-betul sama sekali saya tidak bisa menjawab.

T: Dari 15 orang itu termasuk nama Bapak. Bagaimana Bapak sampai masuk yang ditunjuk formateur atau yang diminta oleh formateur untuk menjadi anggota Badan Pekerja …?

J : Tidak tahu, pertanyaan saudara hebat betul. Sebab saya sendiri juga kaget. Saya memprotes. Saya ini apa, saya bukan politikus, saya dokter, bagaimana itu, kata saya pada Sjahrir. “Sudah deh,” kata Sjahrir.

T: Protesnya kapan, setelah diumumkan.

J: Ya, saya tidak ditanya lebih dahulu.

T: Tapi selama dua hari itu selalu datang.

J: Saya datang.

T: [Apakah] hari ke satu telah disebut-sebut nama Bapak…

J: Tidak ada.

T: Tapi kemudian setelah Bapak protes apakah dijelaskan kepada Bapak kenapa Bapak dipilih.

J: Ya, Sjahrir dan Amir menjelaskan, “You itu, kalau tidak sanggup tentu tidak akan dipilih.” Judgement Sjahrir itu terhadap orang saya kira baik. Memang saya itu dulu selalu primus interpares di sekolah-sekolah.

T: Waktu ini apakah Bapak menanyakan, siapa yang mengajukan Bapak.

J: Tidak. Saya yakin, Sjahrir; sudah kenal saya sejak jaman Jepang…

T: Apakah alasan itu dihubungkan dengan aktivitas Bapak di jaman Jepang.

J: Ya, saya punya konklusi begitu.

T: [Bagaimana dengan] Wachid Hasjim.

J: Hasjim mewakili Islam yang agak modern.

T: Tan Ling Djie.

J: Tan Ling Djie adalah orang gerakan underground, kemudian [menjadi] Komunis. Dia pintar bukan main, kepalanya botak.

T: dr. Sudarsono.

J: Sudarsono, kawan Karib dari Bung Sjahrir.

T: Saya melihat sebagian besar daripada orang-orang yang ikut Badan Pekerja KNIP, sebelumnya pernah berhubungan dengan Bung Sjahrir, terutama sekali pada jaman Jepang dan sekitar Proklamasi. Apakah hubungan garis itu yang menjadi pertimbangan untuk bisa masuk dalam Badan Pekerja ini.

J: Ya. Mereka pernah berhubungan dengan Sjahrir, tapi saya tidak melihat hubungan garis itu. Pada umumnya mereka adalah orang-orang yang bertanggung-jawab. Seperti yang telah saya katakan tadi, dan [mereka] cukup mempunyai nasionalisme dan kecerdasan.

Red : (Rekaman hampir habis, berisi tentang omong-omong perpisahan).

 

https://aswilblog.wordpress.com/2008/12/07/kenang-kenangan-dr-abdul-halim-bab-ii/

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s