Pedagang Perempuan Minangkabau

The female merchant in Pasa Bawah at 1945, that is the explanation of this picture. We can see the Minangkabau woman cloth, called Baju Kuruang and Kains Saruang Batiak. In they used Tingkuluak (Veil) in their head and as merchant they have one more “kain saruang” in top of their head. Its use to put the katidiang (basket) in top of thir head. Imagine, how strong this woman, walk for more 1 Km to Bukit Tinggi to the market in Bukit Tinggi.
______________________________________

Pedagang Perempuan di Pasa Bawah di tahun 1945, sesuai dengan keterangan pada foto. Mereka ialah pedagang jagung. Menarik melihat pakaian mereka, baju kuruang, kain saruang batik, tingkuluak (kerudung), serta kain sarung yang ditata sedemikian rupa terletak di kepala mereka. Kegunaan kain sarung itu ialah sebagai alas di kepala tatkala katidiang (bakul) yang mereka bawa berisi jagung tersebut di letakkan di atas kepala.

Sungguh betapa kuatnya Perempuan Minangkabau pada masa dahulu, berjalan berkilo-kilo menuju pasa di Bukit Tinggi dari kampung mereka. Pada masa sekarang pakaian serupa ini sudah tiada lagi, kebanyakan perempuan Minangkabau pada masa sekarang lebih senang menggenakan Kebaya yang berasal dari Jawa. Apabila ada yang memakai Baju Kurung maka dikatakan Baju Malaysia, entah siapa yang mula-mula memberi istilah serupa itu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s